BERTABARUK MENCIUM BATU NISAN MENURUT ULAMA WAHABI SALAFI

MU'JAM AS-SYUYUKH ADZ-DZAHABI OK

Berkata Imam Ad-Dzahabi dalam Mu’jam As-Suyukh 1/45-46: Ketika menyebutkan biografi gurunya yang bernama Syaikh Ahmad Abul Abbas al-Qozwaini:

أحمد بن عبدالمنعم بن أحمد ابو العباس القزويني الطاوسي الصوفي
(( أخبرنا أحمد بن عبدالمنعم غير مرة ، أنا أبو جعفر الصيدلاني كتابة ، أنا أبو علي الحداد حضورا ، أنا أبو نعيم الحافظ ، نا عبدالله بن جعفر ، ثنا محمد بن عاصم ، نا أبو أسامة ، عن عبيد الله ، عن نافع ، عن ابن عمر : (( أنه كان يكره مس قبر النبي صلى الله عليه وسلم )) .
قلت : كره ذلك لأنه رآه إساءة أدب ، وقد سُئل أحمد بن حنبل عن مسّ القبر النبوي وتقبيله فلمْ يرَ بذلك بأسا ، رواه عنه ولده عبدالله بن أحمد .

Beliau adalah Ahmad bin Abdul Mun’im bin Ahmad Abul Abbas Al-Qazwaini at-Thusi as-Shufi, telah mengabarkan pada kami Ahmad bin Abdul Mun’im tidak hanya sekali, saya Abu Jafar As-Shaedalani secara tulisan, saya Abu Ali Al-Haddad secara hadir, saya Abu Nua’im Al-Hafizh, menceritakan Abdullah bin Ja’far, telah menceritakan Muhammad bin Ashim, telah menceritakan Abu Usamah, dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar beliau berkata: sesungguhnya di makruhkan mengusap kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Maka aku [Ad-Dzahabi] berkata: hal itu di makruhkan karena beliau menganggapnya sebagai su’ul adab saja, karena sungguh Imam Ahmad pernah di tanya tentang MENGUSAP KUBUR NABI DAN MENCIUMNYA, maka beliau menganggapnya tidak apa apa, itu di riwayatkan oleh putranya yakni Abdullah bin Ahmad.

lalu beliau [Imam Dzahabi] berkata lagi :

فإن قيل : فهل فعل ذلك الصحابة ؟؟ .
قيل : لأنهم عاينوه حيا ، وتملوا به وقبّلوا يده ، وكادوا يقتتلون على وضوءه ، واقتسموا شعره المُطهَّـر يوم الحج الأكبر ، وكان إذا تنخم لا تكاد تقع إلا في يد رجل فيدلك بها وجهه ، ونحن لما لم يصح لنا مثل هذا النصيب الأوفر ترامينا على قبره بالالتزام والتبجيل ، والاستلام والتقبيل ، ألا ترى كيف فعل ثابت البناني ؟! كان يقبل يد أنس بن مالك ويضعها على وجهه ويقول : يد مست يد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، إذ هو مأمور بأن يحب الله ورسوله أشد من حبه لنفسه وولده والناس أجمعين ، ومن أمواله ومن الجنة وحورها ، بل خلق من المؤمنين يحبون أبا بكر وعمر أكثر من حب أنفسهم .
حكى لنا جندار أنه كان بجبل البقاع فسمع رجلا سب أبا بكر فسل سيفه وضرب عنقه ،

Seandainya di tanyakan: apakah para sahabat melakukan hal itu?? maka katakanlah: Karena sesungguhnya mereka melihat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam dengan mata mereka, dan mereka tertarik dan mencium tangan Nabi, dan mereka hampir saling membunuh karena berebut air bekas wudu Nabi ,dan mereka membagikan rambut Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang suci pada waktu haji akbar, dan tidaklah Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam meludah,dan ludahnya jatuh kecuali sudah ada di telapak tangan para sahabat lalu di usapkan ke wajah mereka, dan kami tidaklah bernasib sebagaimana mereka para sahabat, maka karena cinta kami pada Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam, kami MELEMPARKAN TUBUH KAMI PADA KUBUR Nabi dengan MEMULIAKANNYA, MENGUSAP DAN MENCIUMNYA, Apakah engkau tidak tau Imam Sabit Al-Banani ??? beliau mencium tangan Anas bin malik,dan menempelkan di wajahnya,seraya berkata: ini adalah tangan yang bersentuhan dengan tangan Rasul Shollallaahu ‘alaihi wa sallam, KARENA SESUNGGUHNYA DI PERINTAHKAN untuk mencintai Allah dan Rasulnya melebihi cintanya atas dirinya sendiri, orang tua juga semua manusia, melebihi cintanya pada harta, surga, bidadari, malah di antara ahlak mukmin beliau mencintai Abu Bakar, Umar, melebihi cintanya pada dirinya sendiri, Telah meriwayatkan kepada kami Abu Jandar, ketika ia ada di gunung Biqo’, lalu ia mendengar orang yang mencaci Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, maka ia mengambil pedangnya dan menebaskan pada leher orang tersebut. [Mu’jam As-Suyukh 1/45-46]

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, salah satu imam madzhab empat yang terkemuka, imam yang diakui keilmuannya oleh semua kalangan baik Sunni maupun Wahabi ternyata juga bertabarruk dengan makam Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam Kitabnya “Al-‘Ila wa Ma’rifah Ar-Rijal” Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal radhiyallohu ‘anhu (Imam Ahmad [141-164]) ditahqiq oleh DR. Washiyulloh bin Muhammad Abbas jilid 3 cetakan Darr Al-Khani, Riyadh cetakan ke-2 tahun 2001/1422 H halaman 492 beliau menuturkan:

3243- سألته عن الرجل يمس منبر النبي صلى الله عليه وسلم ويتبرك بمسه ويقبله ويفعل باالقبر مثل ذالك أو نحو هذا يريد بذالك التقرب الى الله جل وعز فقال : لا بأس بذالك.

Dia (Abdullah bin Ahmad = putra Imam Ahmad bin Hanbal) berkata: “Saya bertanya kepadanya (Ahmad bin Hanbal) tentang orang yang menyentuh mimbar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencari berkah dengan menyentuh dan menciumnya, dan melakukan hal yang sama ke kuburan beliau, atau hal seperti itu, dgn tujuan mendekatkan diri dan mencari berkah dari Allah, ia (Imam Ahmad) mengatakan: “Tidak apa2 dengan hal itu”.

Salah satu contoh prilaku para imam Ahlussunnah yang mau tidak mau, wahabi-salafi harus memvonisnya sebagai perbuatan ghuluw dan syirik dalam ajarannya dan aqidahnya adalah sikap imam Ahmad bin Hanbal kepada gurunya yaitu imam Syafi’i. Berikut kisahnya yang ditampilkan imam Baihaqi dalam kitabnya Manaaqib Asy-Syafi’i dengan sanad yang shahih :

“Sholeh bin Ahmad bercerita “ Suatu hari imam Syafi’i datang menjenguk ayahku yang sedang sakit, tiba-tiba ayahku meloncat menuju Imam Syafi’i dan langsung mencium kening gurunya tersebut, kemudian ayahku menempatkan imam Syafi’i di tempat duduk ayahku dan ayahku duduk di hadapan beliau kemudian saling bertanya sesaat. Ketika Imam Syafi’i bangkit untuk menaiki tunggangannya (kendaraannya), maka ayahku meloncat dan memegang tunggangan Imam Syafi’i lalu berjalan bersama beliau. Kisah tersebut didengar oleh Imam Yahya bin Ma’in, lalu datang dan berkata kepada ayahku “ Ya Subhanallah (ungkapan heran), sunnguh besar urusan itu sampai-sampai andai berjalan di sisi tunggangan(baghlah, peranakan keledai) Imam Syafi’i ?? “, maka ayahku menjawabnya “ Wahai Yahya, seandainya anda berjalan di sisi satunya dari tunggangan beliau itu, maka anda pasti akan mendapat manfaat “. Kemudian ayahku berkata “ Barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu fiqih, maka CIUMLAH BUNTUT KELEDAI TERSEBUT “. (Manaqib Asy-Syafi’i : juz II halaman 253)

BANDINGKAN ANTARA MENCIUM BATU NISAN DENGAN EKOR KELEDAI, SILAHKAN PILIH…………

Dalam Kitab Al-Bidayah Wa An-Nihayah Juz 18 Hal. 297 Bab. “Mengenang Wafat Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah” Al-Hafidz Ibnu Katsir bercerita :

Pada halaman 296 dijelaskan, “Setelah dishalatkan kemudian (jenazah Ibnu Taimiyah) dibawa menuju pemakaman ahli sufi, dan dimakamkan didekat makam saudaranya yaitu Syarafuddin Abdullah semoga Allah merahmati keduanya, beliau dimakamkan pada waktu ashar atau sebelumnya, dan tidak ada yg tidak menghadiri pemakamannya kecuali sedikit org dikarenakan sdh usia tua, dan dihadiri oleh banyak peziarah wanita sekitar 10.000 org dan peziarah laki2 sekitar 60.000 orang.”Halaman 297 disebutkan,

وشرب جماعة الماء الذي فضل من غسله, واقتسم جماعة بقية السدر الذي غسل به , ودفع بالخيط الذي كان فيه الزئبق الذي كان في عنقه بسبب القمل خمسمائة درهم , وقيل إن الطاقية التي كانت على رأسه دفع فيها خمسون درهما

“Sekelompok orang meminum air bekas basuhan janazah Ibn Taimiyah. Dan sekelompok lainya membagi2kan sadr (sabun utk memandikan mayat) Ibn Taimiyah. Benang jaitan yg ada di lehernya karena pnyakit kutu dibeli seharga 150 dirham, bahkan semacam peci dikepalanya dibeli dengan harga 500 dirham, disaat beliau wafat banyak sekali histeri dan air mata serta tadharru’ (merendah)”(Al-Bidayah wan An-Nihayah:18/297)

– Beranikah wahabi mengatakan Ibn Katsir ghuluw?
-Beranikah wahabi memvonis beliau jahil karena telah menamfikan khurafat seperti itu?
– Beranikah wahabi mengkafirkan para pengikut dan pecinta Ibnu Taimiyah karena telah melakukan perkara yg menurut mereka itu musyrik??

FIRMAN ALLOH DAN RELEVANSINNYA

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 64)

IBNU KATSIR MENJELASKAN TENTANG AYAT DIATAS SBB:

وقوله: { وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } يرشد تعالى العصاة والمذنبين إذا وقع منهم الخطأ والعصيان أن يأتوا إلى الرسول صلى الله عليه وسلم فيستغفروا الله عنده، ويسألوه أن يستغفر لهم، فإنهم إذا فعلوا ذلك تاب الله عليهم ورحمهم وغفر لهم، ولهذا قال: { لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا }

وقد ذكر جماعة منهم: الشيخ أبو نصر بن الصباغ في كتابه “الشامل” الحكاية المشهورة عن العُتْبي، قال: كنت جالسا عند قبر النبي صلى الله عليه وسلم، فجاء أعرابي فقال: السلام عليك يا رسول الله، سمعت الله يقول: { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } وقد جئتك مستغفرا لذنبي مستشفعا بك إلى ربي ثم أنشأ يقول:
يا خيرَ من دُفنَت بالقاع (1) أعظُمُه … فطاب منْ طيبهنّ القاعُ والأكَمُ …
نَفْسي الفداءُ لقبرٍ أنت ساكنُه … فيه العفافُ وفيه الجودُ والكرمُ …
ثم انصرف الأعرابي فغلبتني عيني، فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقال: يا عُتْبى، الحقْ الأعرابيّ فبشره أن الله قد غفر له (2) .
(1) في أ: “في القاع”.
(2) ذكر هذه الحكاية النووي في المجموع (8/217) وفي الإيضاح (ص498)، وزاد البيتين التاليين: أنت الشفيع الذي ترجى شفاعته … على الصراط إذا ما زلت القدم
وصاحباك فلا أنساهما أبدا … مني السلام عليكم ما جرى القلم

Dan firman Alloh: {Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang..”} (QS. An-Nisa’: 64) Alloh mengajarkan kepada ahli maksiat dan pelaku dosa ketika sebagian diantara mereka melakukan kesalahan dan kemaksiatan agar mereka datang kepada Rosul Shollallohu ‘alaihi wa sallam dan memohon kpd Alloh disisinya, dan memohon kpd Rosul agar memohonkan ampun kpd Alloh atasnya. Maka apabila melakukan hal itu, niscaya Alloh menerima tobat mereka, merohmatinya dan mengampuninya, karena inilah Alloh berfirman, {tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”} (QS. An-Nisa’: 64)

Dan telah disebutkan oleh ijma’ ulama sebagian diantara mereka adalah Syeikh Abu Nashir bin Ash-Shobagh dlm kitabnya “Asy-Syamil” tentang cerita yg masyhur tentang Al-‘Utbi dia berkata, “Aku duduk di dekat kubur Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka datanglah seorang arab badui dan berkata, ‘Keselamatan bagimu wahai Rosululloh, aku telah mendengar bhw Alloh berfirman, {Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.} (QS. An-Nisa’: 64) Sungguh aku telah mendatangimu unt memohon ampunan atas dosa-dosaku dan memohon syafa’at darimu dari Tuhanku, kemudian dia bersyair: ‘Wahai org yg terbaik dan agung yg telah dikubur…, beruntunglah org yg membawa kebersihan di dlm kuburnya…, diriku sebagai tebusan (pengganti) untuk kubur yg engkau tempati…, di dalamnya terdapat kesucian, kedermawanan dan kemuliaan…..’ setelah itu org arab badui pergi. Maka tibalah rasa kantukku (Al-‘Utbi) dan tertidur, di dlm mimpiku Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Utbi, arab badui benar, maka berilah kabar gembira kepadanya karena Alloh telah mengampuninya.”

(Hikayat ini disebutkan oleh Imam Nawawi dlm Al-Majmu’ juz 8 hal. 217 / Al-Idhoh hal. 498. Dan ada tambahan dua bait syair mengikutinya yaitu, “Engkaulah pemberi syafa’at yg diharapkan syafa’atnya…, diatas shiroth saat kaki melangkah…, dan unt kedua sahabatmu yg tdk aku lupakan selamanya…, salam dariku untukmu selama catatan masih berlaku.”)

Imam Ibnu Katsir mengutip apa yg disampaikan oleh Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ Sarh Al-Muhadzab pada halaman 255-256 secara panjang lebar bagaimana tata cara berziarah di makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam disana disebutkan kalimat sbb:

ثم يرجع إلى موقفه الأول قبالة وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم ويتوسل به في حق نفسه ، ويستشفع به إلى ربه سبحانه وتعالى

Kemudian kembali ketempat semula dengan menghadap wajah (muka) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan membelakangi kiblat) DAN BERTAWASUL DENGANNYA dalam hak dirinya (Rasulullah) serta MEMOHON PERTOLONGAN DENGANNYA kepada Tuhannya (Allah) Subhanahu wa Ta’ala.

Jelaslah disini Imam Nawawi menjelaskan tentang bagaimana bertawasul dan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dihadapan MAKAM RASULULLAH Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun teks secara lengkapnya yg terdapat dalam Majmu’ Al-Muhadzab Imam Nawawi dalam teks arab sbb:

ثم يأتي القبر الكريم فيستدبر القبلة ويستقبل جدار القبر ويبعد من رأس القبر نحو أربع أذرع ، ويجعل القنديل الذي في القبلة عند القبر على رأسه ويقف ناظرا إلى أسفل ما يستقبله من جدار القبر غاض الطرف في مقام الهيبة والإجلال فارغ القلب من علائق الدنيا ، مستحضرا في قلبه جلالة موقفه ومنزلة من هو بحضرته ، ثم يسلم ولا يرفع صوته ، بل يقصد فيقول : السلام عليك يا رسول الله السلام عليك يا نبي الله ، السلام عليك يا خيرةالله ، السلام عليك يا حبيب الله السلام عليك يا سيد المرسلين وخاتم النبيين . السلام عليك يا خير الخلائق أجمعين . السلام عليك وعلى آلك وأهل بيتك وأزواجك وأصحابك أجمعين ، السلام عليك وعلى سائر النبيين وجميع عباد الله الصالحين ، جزاك الله يا رسول الله صلى الله عليه وسلم عنا أفضل ما جزى نبيا ورسولا عن أمته ، وصلى عليك كلما ذكرك ذاكر وغفل عن ذكرك غافل ، أفضل وأكمل ما صلى على أحد من الخلق أجمعين ، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أنك عبده ورسوله ، وخيرته من خلقه وأشهد أنك بلغت الرسالة وأديت الأمانة ونصحت الأمة وجاهدت في الله حق جهاده ، اللهم آته الوسيلة والفضيلة ، وابعثه مقاما محمودا الذي وعدته ، وآته نهاية ما ينبغي أن يسأله السائلون . اللهم صل على محمد عبدك ورسلوك النبي الأمي وعلى آل محمد وأزواجه وذريته ، كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد ، كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد . ومن طال عليه هذا كله اقتصر على بعضه ، وأقله السلام عليك يا رسول الله صلى الله عليه وسلم وجاء عن عمر وغيره كان قد أوصى بالسلام عليه صلى الله عليه وسلم قال : السلام عليك يا رسول الله من فلان ابن فلان ، وفلان ابن فلان يسلم عليك يا رسول الله أو نحو هذه العبارة ، ثم يتأخر إلى صوب يمينه قدر ذراع للسلام على أبي بكر رضي الله عنه ، لأن رأسه عند منكب رسول الله صلى الله عليه وسلم فيقول : السلام عليك يا أبا بكر صفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وثانيه في الغار ، جزاك الله عن أمة رسول الله صلى الله عليه وسلم خيرا . ثم يتأخر إلى صوب يمينه ذراع للسلام على عمر رضي الله عنه ، ويقول السلام عليك يا عمر الذي أعز الله به الإسلام ، جزاك الله عن أمة نبيه صلى الله عليه وسلم خيرا . ثم يرجع إلى موقفه الأول قبالة وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم ويتوسل به في حق نفسه ، ويستشفع به إلى ربه سبحانه وتعالى
________________________________________
نفسي الفداء لقبر أنت ساكنه فيه العفاف وفيه الجود والكرم ثم انصرف فحملتني عيناي فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقال : يا عتبي الحق الأعرابي فبشره بأن الله تعالى قد غفر له . ثم يتقدم إلى رأس القبر فيقف بين الأسطوانة ويستقبل القبلة ويحمد الله تعالى ويمجده ويدعو لنفسه بما شاء ولوالديه ، ومن شاء من أقاربه ومشايخه وإخوانه وسائر المسلمين ، ثم يرجع إلى الروضة فيكثر فيها من الدعاء والصلاة ويقف عند المنبر ويدعو .

Pada halaman 256-257 dijelaskan sbb:

ومن أحسن ما يقول ما حكاه الماوردي والقاضي أبو الطيب وسائر أصحابنا عن العتبي مستحسنين له قال : كنت جالسا عند قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم فجاء أعرابي فقال : السلام عليك يا رسول الله سمعت الله يقول : { ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جاؤوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله توابا رحيما } وقد جئتك مستغفرا من ذنبي مستشفعا بك إلى ربي ثم أنشأ يقول : يا خير من دفنت بالقاع أعظمه فطاب من طيبهن القاع والأكم نفسي الفداء لقبر أنت ساكنه فيه العفاف وفيه الجود والكرم ثم انصرف فحملتني عيناي فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقال : يا عتبي الحق الأعرابي فبشره بأن الله تعالى قد غفر له .

Dan seorang yang sangat bagus apa yg dia katakan dalam cerita Imam Mawardi, Imam Al-Qadhi Abu Al-Thoyyib dan Al-‘Utbi dan semua teman-teman kami (Imam Nawawi) tentang ‘Uthbi dia berkata, “Aku duduk di dekat kubur Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka datanglah seorang arab badui dan berkata, ‘Keselamatan bagimu wahai Rosululloh, aku telah mendengar bhw Alloh berfirman, {Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.} (QS. An-Nisa’: 64) Sungguh aku telah mendatangimu unt memohon ampunan atas dosa-dosaku dan memohon syafa’at darimu dari Tuhanku, kemudian dia bersyair: ‘Wahai org yg terbaik dan agung yg telah dikubur…, beruntunglah org yg membawa kebersihan di dlm kuburnya…, diriku sebagai tebusan (pengganti) untuk kubur yg engkau tempati…, di dalamnya terdapat kesucian, kedermawanan dan kemuliaan…..’ setelah itu org arab badui pergi. Maka tibalah rasa kantukku (Al-‘Utbi) dan tertidur, di dlm mimpiku Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Utbi, arab badui benar, maka berilah kabar gembira kepadanya krn Alloh telah mengampuninya.”

DALAM KITAB “AD-DUROR AS-SANIYAH FI RODD AL-WAHABIYAH” HAL. 3 SAYID AHMAD BIN ZAINI DAHLAN MENJELASKAN

ألدٌّرَرُ السَّنِيَّةُ قِى رَدِّ عَلَى اْلوَهّابِيَّةِ
ألسيد أحمد ابن زيني دحلان

اعلم رحمك الله ان زيارة قبر نبينا صلى الله عليه وسلم مشروعة مطلوبة باالكتاب والسنة واجماء الامة أماالكتاب فقوله تعالى : { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } دلت الاية على حث الامة على المجئ صلى الله عليه وسلم والاستغفار عنده والاستغفارلهم وهذا لا ينقطع بموته ص 3

Ketahuilah, semoga Alloh merohmatimu, sesungguhnya berziarah ke kubur Nabi kita Shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah disyari’atkan dan diharapkan di dlm al-Kitab dan as-Sunnah serta ijma’ umat. Adapun kitab al-Qur’an sebagaimana firman Alloh Ta’ala: {Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang..”} (QS. An-Nisa’: 64) Ayat ini menunjukkan perintah buat umat agar mendatangi Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam dan memohon ampun disisinya serta memohon agar Rosul memohonkan ampun kepada mereka. Dan ini tdk terputus [keharusannya] sebab telah wafatnya Rosululloh. Wallohu A’lam bish-Showab

SOBAT FILLAH, DARI REFERENSI YG TELAH SY SEBUTKAN DIATAS MENUNJUKKAN “KEBOLEHAN” BERTAWASUL KPD ROSULULLOH MESKIPUN TELAH WAFAT. JIKA TAWASUL HANYA BERLAKU TERHADAP ORG YG MASIH HIDUP SAJA, MAKA QS.AN-NISA’: 64 SDH TDK RELEFAN LAGI UNT MUSLIM SAAT INI.

PERTANYAANNYA, BUKANKAH AL-QUR’AN ITU BERLAKU DARI JAMAN ROSUL SAMPAI HARI KIAMAT ?

ADAKAH QS.AN-NISA’: 64 TSB HANYA DIPERUNTUKKAN UMAT ISLAM DIJAMAN NABI SAJA ?

MOHON JAWABAN JUGA KOREKSI JIKA SALAH SECARA ILMIAH DAN SEMOGA BERMANFA’AT. AAMIIN

2 responses to “BERTABARUK MENCIUM BATU NISAN MENURUT ULAMA WAHABI SALAFI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s