PANTASKAH AKU, KAMU DAN DIA DISEBUT USTADZ ?

USTADZ FOTOCOPY

قوله تعالى‏:‏ ‏{‏‏يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ‏} ‏[‏المجادلة‏:‏ 11‏]‏، خص سبحانه رَفْعَه بالأقدار والدرجات الذين أوتوا العلم والإيمان، وهم الذين استشهد بهم في قوله تعالى‏:‏ ‏{‏‏شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمًَا بِالْقِسْطِ}‏‏ ‏[‏آل عمران‏:‏ 18‏]‏‏.

Firman Allah, {“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”} [QS. Al-Mujadalah: 11]. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan akan mengangkat kira-kira beberapa derajat orang-orang yang diberikan ilmu dan keimanan. Mereka adalah orang-orang bersaksi dalam firman Allah Ta’ala, {“ Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).”} [QS. Ali Imran: 18]

Tidak setiap orang yang memiliki ilmu itu disebut ustadz. Ustadz itu tidak sembarangan dan asal-asalan. Ustadz adalah AHLI ILMU. Gelar ustadz itu tidak sembarangan diberikan, dan hanya orang yang pantaslah yang berhak memberikan gelar ini. Maka gelar ini harus datang dari ustadz lainnya; bukan datang dari orang-orang awan selain para asatidz. Maka janganlah kita menyebut seseorang ustadz; terkecuali ia memang diakui sebagai ustadz oleh USTADZ lainnya. dan memang ia memiliki STANDAR yang menjadikannya PANTAS menjadi seorang ustadz. Ini yang perlu dipahami ya ikhwan wa akhwat fillah..

Banyak yang tidak mengetahui mudharat-mudharat yang dihasilkan dari kekeliruan ini. Dengan sembarangannya seseorang menggelari seseorang dengan gelar ustadz (terlebih lagi orang yang digelari tersebut tidak berhak dengan gelar tersebut) maka ini akan merusak ilmu. Kenapa? karena ini dapat mempengaruhi orang lain untuk menimba ilmu darinya (menuntut ilmu kepadanya, bertanya ilmu kepadanya; dll.) padahal dia belum pantas untuk menjadi seorang GURU atau PENGAJAR atau DA’I atau ULAMA atau AHLI ILMU!

Dan yang sangat dikhawatirkan adalah ketika orang yang digelari tersebut TIDAK TAHU DIRI, dan semakin BERLAGAK seperti USTADZ. Allahul musta’aan. Sehingga dia -ustadz jadi-jadian tersebut- ditanyakan ilmu, dan ia pun BERFATWA TANPA ILMU [bahkan terkadang ini kita dapati kepada saudara-saudara kita yang juga SUDAH MENGENAL MANHAJ YANG BENAR, walaupun ia tidak dipanggil ustadz, dan tidak mengaku ustadz; tapi ia banyak berbicara DENGAN KEBODOHAN (tanpa ilmu) dan KERAGU-RAGUAN (tanpa kemantapan ilmu)].

Inilah yang menjadi pembuktian akan hadits-hadits Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا ، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ ” .

Dari Ubadah bin Shamit berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’ “Bukan dari ummatku siapa yang tidak menghormati orang yang besar dari kami dan tidak merahmati orang yang kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang yang alim dari kami.” (HR. Ahmad hadits marfu’)

Mereka tidak menghormati orang besar; sekaligus tidak mengetahui hak-hak orang lain. Bahkan mereka tidak memberikan orang alim hak-haknya (yakni menuntut ilmu kepada selainnya), yaitu dengan mengangkat orang-orang yang BUKAN AHLI ILMU sebagai pemimpin mereka dalam beragama.

Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

‎إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّا سُ رُؤُوْسًا جُهَّالاًفَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْم فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari para hamba(Nya). Akan tetapi Allah mencabutnya dengan mencabut (mewafatkan) para ulama. Sampai bila tidak tersisa lagi seorang alim maka manusia pun mengambil para pemimpin yang bodoh. Maka mereka pun ditanya lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu. Maka sesatlah mereka lagi menyesatkan.” (HR. Bukhariy dan Muslim)

Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

‎سَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الْأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِيْ أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, akan dipercaya/dibenarkan padanya orang yang berdusta, dan dianggap berdusta orang yang jujur, orang yang berkhianat dianggap amanah, dan orang yang amanah dianggap berkhianat, dan akan berbicara Ar-Ruwaibidhah. Ditanyakan, ‘ Siapakah Ar-Ruwaibidhah itu?’ (Beliau shållallåhu ‘alayhi wa sallam) berkata: ‘ Orang yang bodoh berbicara dalam perkara umum.” (HR. Ibnu Majah)

Berkata Ibnu Mas’ud Rådhiyallåhu ‘anhumaa: “Manusia masih akan senantiasa sebagai orang yang shalih lagi berpegang teguh sepanjang ilmu datang kepada mereka dari para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan orang-orang besar mereka. Maka apabila (ilmu) datang kepada mereka dari orang-orang kecil [orang-orang bodoh yang bicara masalah agama dan orang-orang menyimpang (ahlul bid’ah) -abu zuhriy], binasalah mereka.” (Lihat takhrijnya dalam kitab Madarik An-Nazhar hal. 161)

Standarisasi Ulama atau Ustadz

Imam Asy Syafi’i berkata : “Tidak halal bagi seorangpun berfatwa dalam agama Allah kecuali orang yang berilmu tentang kitabullah, nasikh mansukhnya, muhkam dan mutasyabihnya, ta’wil dan tanzilnya, makki dan madaninya dan apa yang diinginkan darinya. Kemudian ia mempunyai ilmu yang dalam mengenai hadits Rosulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana ia mengenal Al-Qur’an. Mempunyai ilmu yang dalam mengenai bahasa arab, sya’ir-sya’ir arab dan apa yang dibutuhkan untuk memahami Al-Qur’an, dan ia mempunyai sikap inshaf (adil) dan sedikit berbicara. Mempunyai keahlian dalam meyikapi perselisihan para ulama. Barang siapa yang memiliki sifat-sifat ini, silahkan ia berbicara tentang ilmu dan berfatwa dalam masalah halal dan haram, dan barang siapa tidak memilikinya maka ia hanya boleh berbicara tentang ilmu namun tidak boleh berfatwa “. (Shahih faqih wal mutafaqqih hal 390).

Walaupun kita mengetahui zaman sekarang, terutama di negeri kita; sangat amat sulit mendapatkan kriteria diatas, namun yang kita ambil darinya adalah BEGITU TINGGINYA standar sebagai ulama atau ustadz, karena sebagai AHLI ILMU memegang amanah yang besar, yang tidak dipegang oleh sembarang orang. Maka cukuplah disebut dosa, apabila orang tidak menempatkan amanah pada tempatnya; diantaranya jika ia tidak menempatkan hak-hak ahli ilmu pada tempatnya. Allah Subhanahu wa Ta ’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka BERTANYALAH kepada AHLI DZIKR (AHLI ‘ILMU) jika kamu tidak mengetahui.” ‪(QS. An-Nahl: 43)‬

Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika ditanya tentang kapan terjadinya hari kiamat, bersabda,

‎فَإِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Apabila amanah telah ditelantarkan maka tunggulah hari kiamat.” (Maka ada yang) bertanya, “Kapan ditelantarkannya?” Beliau shallallåhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Apabila perkara telah diserahkan kepada selain ahlinya maka tunggulah hari kiamat.” (HR. Bukhari dari shahabat Abu Hurairah)

Maka janganlah sembarangan kita memberikan gelar-gelar seperti; ustadz -dengan kebodohan kita- kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Kita hanya memberikannya kepada orang yang memang pantas menyandangnya dan BERHAK menyandangnya. Semoga kita tidak menyianyiakan amanah ini dan dapat mengamalkannya dengan sebaik-baiknya.’

Singkatnya, seorang ustadz yang baik haruslah memiliki nilai kompetensi yang baik. Nilai ini bisa dilihat dari afektif, psikomotorik, dan kognitif. Psikomotorik berarti ustadz tersebut harus memiliki AKHLAK DAN PERBUATAN TERPUJI. Afektif berarti ustadz tersebut harus mampu MENGAITKAN ajaran agama dengan KEHIDUPAN sehari-hari. Dan yang ketiga adalah kognitif, ustadz harus memiliki PENGETAHUAN yang mumpuni mengenaiMASALAH AGAMA. Wallahu a’lam bish-Shawab

Semoga bermanfa’at dan tidak ada maksud lain kecuali untuk evaluasi dan introspeksi diri.

4 responses to “PANTASKAH AKU, KAMU DAN DIA DISEBUT USTADZ ?

    • Wa’alaikumussalam wr.wb. Ukhti, betul ustadz artinya guru, tapi yg dimaksud disini adalah ustadz/ulama yg dimana umumnya meski tdk memiliki skil keilmuan agama yg cukup sdh BANGGA disebut ustadz meski bacaan al-Qur’annya msh terbata-bata, ma’af jika salah dan trm ksh

    • Wa’alaikumussalam wr.wb. Ukhti, betul ustadz artinya guru, tapi yg dimaksud disini adalah ustadz/ulama yg dimana umumnya meski tdk memiliki skil keilmuan agama yg cukup sdh BANGGA disebut ustadz meski bacaan al-Qur’annya msh terbata-bata, ma’af jika salah dan trm ksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s