HUKUM BACAAN AL-QUR’AN UNTUK MAYIT MENURUT ULAMA SALAFI WAHABI

AR-RUH 4

Salah satu ustadz salafi wahabi Indonesia Abdul Hakim bin Amir Abdat mengatakan bahwa bacaan Al-Qur’an tidak sampai kepada mayit dengan berlandasan QS. An-Najm: 29

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya manusia tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali apa yang telah ia usahakan” [QS. An-Najm : 39]

Dan  dia juga mengambil hujjah dari perkataannya Ibnu Taimiyah yang berikut, “Tidak menjadi kebiasaan salaf, apabila mereka shalat sunnat atau puasa sunnat atau haji sunnat atau mereka membaca Al-Qur’an lalu mereka menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati dari kaum muslimin. Maka tidaklah boleh berpaling (menyalahi) perjalanan salaf. Karena sesungguhnya kaum salaf itu lebih utama dan lebih sempurna” [Dari Kitab Al-Ikhtiyaaraat Ilmiyyah]

Baiklah jika demikian penjelasannya akan penulis nukilkan pula apa yang disampaikan oleh salah satu murid kesayangan Ibnu Taimiyah yaitu Ibnu Qayim Al-Jauziah, beliau juga ulama salafi wahabi melalui salah satu kitabnya.

Di dalam kitab Ar-Ruh fi Al-Kalam ‘Ala Arwah Al-Amwat wa Al-Ahya’ Ibnu Qayim Al-Jauziah juz 1 cetakan Darr Ibnu Taimiyah Lin Nasyr wa At-Tauzi’ wa Al-A’lam hal. 153-156 menjelaskan sebagaimana scan kitab berwarna kuning sbb:

Pada hal.  153-155 disebutkan sbb:

[3]- قرأة القرأن :

قال ابن مفلح [ولا تكره القرأة على القبر والمقبرة واختاره أبوبكر والقاضى والجماعة وهو المذهب وعليه العمل عند مشايخ الحنفية فقيل تباح وقيل تستحب]

قال ابن قدمة [ولا تكره القرأة على القبر فى أصح الرويتين وقال فى المغنى [ولناما ذكرناه وأنه اجماع المسلمين فأنهم فى كل عصر ومصر يجتمعون ويقرأون القرأن ويهدون ثوابه الى موتاهم من غير نكير]

وقال فى الفتاوى الهندية [واذا أراد زيارة القبور يستحب له أن يصلي فى بيته ركعتين يقرأ فى كل ركعة الفاتحة وأية الكرسي مرة واحدة والاخلاص ثلاث مرة ويجعل ثوابهاللميت]

وقال ابن باز [ذهب الكثير من أهل العلم الى جواز اهداء القرب الى كل ميت مسلم…..سواء كانت القربه…..قرأة أو….]

وقال سيد سابق [الاعمال التى تنفع الميت وذكر قرأة القرأن وقال هو رأى الجمهور]

وقال الغمارى يقرأ القرأن على الاموات لآمرين:

1- رجاء تنزل الرحمة على الميت.

2- انتفاع الميت بثواب القراءة.

ومسالة انتفاع الميت بتلاوة القرأن كثر فيها النزاع والحق الذى لامراء فيه أن القراءة تصل الى الميت …..فأذا ثبت وصول الدعاء والحج والصوم ثبت وصول القراءة بلا شك لآن الكل عبادة والتفريق بين هذه وتلك تحكم لادليل عليه بل فى حديث الحج اخبار بوصول القراءة الى الميت لآن الحج يتضمن صلاة ركعتي الطواف وهي تشتمل على قراءة القرأن قطعا. وثبت عن الشعبى وهو التابعى أن الآنصار كانوا اذا مات لهم ميت اختلفوا على قبره يقرأون عليه القرأن. بل ثبت أعلى من هذا وهو أن اللجلاج  أوصى ابنه العلاء اذا مات ودفنه أن يقرأ على قبره بخاتمة القرأن وقال فأني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ذالك هذا الحديث حسن قال عنه الحافظ الهيتمي رجاله موثوقون]

[3] – Bacaan Al-Qur’an:

Ibnu Muflih berkata, (Tidak dimakruhkan [dibenci] bacaan di kuburan, dan tidak pula di pemakaman, yang dipilih Abu Bakar, ImamAl-Qadhi, dan jama’ah dan merupakan amaliah para sesepuh madzhab Hanafi [Abu Hanifah] dan dikatan mubah (diperbolehkan) dan dikatakan pula mustahab [disukai])

Ibnu Qudamah berkata,  (Tidak dimakruhkan [dibenci] bacaan di kuburan menurut dua riwayat yg shahih, dikatakan di dalam kitab Al-Mughni, [Dan bagi kami sebagaimana disebutkannya bahwa kesepakatan kaum muslimin mereka pada setiap zaman dan keadaan bersama-sama membaca Al-Qur’an dan menghadiahkannya pahalanya kepada yg sudah meninggal diantara mereka tanpa ada kesulitan]

Dia dikatakan dalam fatwa India [dan jika ia ingin mengunjungi makam dianjurkan baginya untuk melakukan shalat dua rakaat di rumahnya, membaca di setiap raka’at surat Al-Fatihah dan ayat kursi sekali dan membaca surat Al-Ihlash tiga kali dan pahalanya dijadikan [hadiah] kepada mayit]

Ibnu Baz mengatakan, (telah banyak ahlul ilmi memberi jalan akan diperbolehkannya bagi kerabat dekat i hadiah [pahala] kepada setiap muslim yg sudah meninggal ….. apakah bagi kerabat dekat ….. bacaan atau ….)

Sayid Sabiq berkata, (Amalan-amalam yg bermanfa’at bagi mayit, dan dia menyebutkan adalah bacaan Al-Qur’an dan dia mengatakan, itu yg aku ketahui dari pendapat kebanyakan).

Al-Ghumari mengatakan bahwa  pembacaan Al-Qur’an untuk orang2 yang sudah meninggal karena dua alasan:

1 – Mengharapkan turunnya rahmat pada mayit [almarhum].

2 – Mayit mendapatkan manfa’at dari pahalanya bacaan [Al-Qur’an].

Dan masalah mengenahi manfa’atnya bacaan Al-Qur’an untuk mayit itu banyak didalamnya termasuk saat naza’[dicabutnya ruh], dan pasti bagi seseorang bahwa bacaan Al-Qur’an akan sampai kepada mayit ….. Jika telah ditetapkan sampainya do’a, [pahala badal] haji dan [pahala badal] puasa, maka ditetapkan tersampainya bacaan Al-Qur’an tanpa ada keraguan, karena sesungguhnya masing-masing termasuk ibadah, dan untuk membedakan antara ini dan itu tidak ada dalil hukum yg menunjukkannya, tapi dalam hadits tentang haji telah menjelaskan tentang sampainya bacaan Al-Qur’an kepada mayit. Karena sesungguhnya haji mengandung pelaksanaan shalat dua rakaat thowaf termasuk dipastikan membaca Al-Qur’an. Asy-Sya’bi seorang tabi’in telah menetapkan bahwa para sahabat anshar jika meninggal seseorang dari mereka maka terjadi perselisihan atas kuburnya mengenahi pembacaan Al-Qur’an atas mayit. Tapi ketetapan yang lebih tinggi dari hal ini adalah sesungguhnya Al-Jalaj pernah berwasiat kepada anaknya Al-’Ala’,  jika ia meninggal dan telah dikuburkan agar dia membacakan diatas kuburannya dengan MENGHATAMKAN AL-QUR’AN dan ia berkata, “aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan demikian itu.” Ini adalah hadits hasan. Al-Hafizh Al-Haitami mengatakan tentangnya bahwa rijal-rijalnya terpercaya).

Dan pada Hal.  156 disebutkan sbb:

وما أحسن ما قاله الشيخ أبو بكر الجزائرى قال : [لا بأس أن يجلس المسلم فى المسجد أو فى بيته فيقرأ القرأن فأذا فرغ من تلاوته سأل الله تعال للميت المغفرة والرحمة متوسلا الى الله عز وجل بتلك التلاوة التى تلاها من كتاب الله تعالى]

Dan apa yg terbaik sebagaimana yg dikatakan oleh Sheikh Abu Bakar Al-Jazairi: [Tidak ada yang salah (tidak mengapa)  jaka seorang muslim duduk di masjid atau di rumahnya membaca Al-Qur’an, dan ketika selesai dari membacanya dia memintakan ampunan dan rahmat kepada Allah Ta’ala untuk mayit dengan berwasilah (perantara) kepada Allah Ta’ala dengan bacaan yg dibacanya dari kitab Allah Ta’ala (Al-Qur’an)] [Kitab Ar-Ruh fi Al-Kalam ‘Ala Arwah Al-Amwat wa Al-Ahya’ Ibnu Qayim Al-Jauziah juz 1 cetakan Darr Ibnu Taimiyah Lin Nasyr wa At-Tauzi’ wa Al-A’lam hal. 153-156]

Adapun ulama-ulama Syafi’iyah yang mayoritas diikuti umat islam Indonesia yang menganjurkan baca’an Al-Qur’an untuk mayit diantaranya:

1. Al-Imam Ar-Rafi’i didalam Fathul ‘Aziz bisyarhi al-Wajiz [5/249]

والسنة ان يقول الزائر سلام عليكم دار قوم مؤمنين وانا ان شاء الله عن قريب بكم لاحقون اللهم لا تحرمنا أجرهم ولا تفتنا بعدهم وينبغي أن يدنو الزائر من القبر المزور بقدر ما يدنو من صاحبه لو كان حيا وزاره وسئل القاضى أبو الطيب عن ختم القرآن في المقابر فقال الثواب للقارئ ويكون الميت كالحاضرين يرجى له الرحمة والبركة فيستحب قراءة القرآن في المقابر لهذا المعني وأيضا فالدعاء عقيب القراءة أقرب الي الاجابة والدعاء ينفع الميت

“Dan sunnah agar peziarah mengucapkan : “Salamun’alaikum dara qaumi Mukminiin wa Innaa InsyaAllahu ‘an qariibi bikum laa hiquun Allahumma laa tahrimnaa ajrahum wa laa taftinnaa ba’dahum”, dan sepatutnya zair (peziarah) mendekat ke kubur yang diziarahi seperti dekat kepada sahabatnya ketika masih hidup ketika mengunjunginya, al-Qadli Abu ath-Thayyib ditanya tentang mengkhatamkan al-Qur’an dipekuburan maka beliau menjawab; ada pahala bagi pembacanya, sedangkan mayyit seperti orang yang hadir yang diharapkan mendapatkan rahmat dan berkah baginya, Maka disunnahkan membaca al-Qur’an di pequburan berdasarkan pengertian ini (yaitu mayyit bisa mendapatkan rahmat dan berkah dari pembacaan al-Qur’an) dan juga berdo’a mengiringi bacaan al-Qur’an niscaya lebih dekat untuk diterima sebab do’a bermanfaat bagi mayit”.

2. Al-Imam Ar-Ramli didalam Nihayatul Muhtaj ilaa syarhi al-Minhaj [3/36] :

ويقرأ ويدعو) عقب قراءته، والدعاء ينفع الميت وهو عقب القراءة أقرب للإجابة

“Dan (disunnahkan ketika ziarah) membaca al-Qur’an dan berdo’a mengiri pembacaan al-Qur’an, sedangkan do’a bermanfaat bagi mayyit, dan do’a mengiringi bacaan al-Qur’an lebih dekat di ijabah”

3. Al-’Allamah Syaikh Zainuddin bin ‘Abdil ‘Aziz al-Malibari didalam Fathul Mu’in [hal. 229] :

ويسن كما نص عليه أن يقرأ من القرآن ما تيسر على القبر فيدعو له مستقبلا للقبلة

“Disunnahkan –sebagaimana nas (hadits) yang menerangkan tentang hal itu- agar membaca apa yang dirasa mudah dari al-Qur’an diatas kubur, kemudian berdo’a untuk mayit menghadap ke kiblat”

4. Imam Ahmad Salamah al-Qalyubiy didalam Hasyiyatani Qalyubi wa ‘Umairah pada pembahasan terkait ziarah qubur :

قوله: (ويقرأ) أي شيئا من القرآن ويهدي ثوابه للميت وحده أو مع أهل الجبانة، ومما ورد عن السلف أنه من قرأ سورة الإخلاص إحدى عشرة مرة، وأهدى ثوابها إلى الجبانة غفر له ذنوب بعدد الموتى فيها

“Perkataannya (dan –disunnahkan- membaca al-Qur’an) yakni sesuatu yang mudah dari al-Qur’an, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada satu mayit atau bersamaan ahl kubur lainnya, dan diantara yang telah warid dari salafush shalih adalah bahwa barangsiapa yang membaca surah al-Ikhlas 11 kali, dan menghadiahkan pahalanya kepada ahl jubur maka diampuni dosanya sebanyak orang yang mati dipekuburan itu”.

5. Syaikh Mushthafa al-Buhgha dan Syaikh Mushthafaa al-Khin didalam al-Fiqhul Manhaji ‘alaa Madzhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah [juz I, hal. 184] :

من آداب زيارة القبور: إذا دخل الزائر المقبرة، ندب له أن يسلم على الموتى قائلاً: ” السلام عليكم دار قوم مؤمنين، وإنا إن شاء الله بكم لاحقون. وليقرأ عندهم ما تيسر من القرآن، فإن الرحمة تنزل حيث يُقرأ القرآن،ثم ليدع لهم عقب القراءة، وليهدِ مثل ثواب تلاوته لأرواحهم، فإن الدعاء مرجو الإِجابة، وإذا استجيب الدعاء استفاد الميت من ثواب القراءة. والله اعلم.

“Diantara adab ziarah kubur : apabila seorang peziarah masuk area pekuburan, disunnahkan baginya mengucapkan salam kepada orang yang mati dengan ucapan : Assalamu‘alaikum dara qaumin mukminiin wa innaa Insya Allahu bikum laa hiquun”, kemudian disunnahkan supaya membaca apa yang mudah dari al-Qur’an disisi kubur mereka, sebab sesungguhnya rahmat akan diturunkan ketika dibacakan al-Qur’an, kemudian disunnahkan supaya mendo’akan mereka mengiringi bacaan al-Qur’an, dan menghadiahkan pahala tilawahnya untuk arwah mereka, sebab sesungguhnya do’a diharapkan di ijabah, apabila do’a dikabulkan maka pahala bacaan al-Qur’an akan memberikan manfaat kepada mayyit, wallahu ‘alam.”

6. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali didalam kitab monumentalnya yaitu Ihyaa’ ‘Ulumuddin [4/492] :

ولا بأس بقراءة القرآن على القبور

“Tidak apa-apa dengan membaca al-Qur’an diatas kubur.” Wallahu a’lam bish-Shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s