BERTAWASUL DENGAN ORANG MENINGGAL DILARANG ?

TAFSIR IBNU KATSIR QS. AN-NISA 64

Kelompok salafi wahabi mengatakan, “Seandainya orang yang telah mati dapat dipanggil (diseru), maka panggillah arwah para Nabi dan semua para syuhada serta panglima-panglima perang Islam yang telah wafat untuk datang membantu menumpas orang-orang Yahudi dan Nasrani atau kaum kafirin yang lain, dan buatlah angkatan perang ‘Ghaib’. Seandainya orang yang sudah wafat bisa membantu, maka pastilah arwah orang tua kita yang sudah meninggal akan membantu kita dalam kesulitan mereka pasti akan berusaha sekuat tenaga keluar dari alam barzakh, dan tidaklah mungkin mereka tega melihat anak cucunya menderita. Apakah mungkin orang yang sudah meninggal bisa menolong, bukankah Allah telah berfirman:

وَمَا يَسْتَوِي الأحْيَاءُ وَلا الأمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ

“Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” [QS. Fathir : 22]

http://hanahuwaida.blogspot.com/2011/03/ber-tawassul-kepada-orang-yang-telah.html

Baiklah kalau begitu…………..Al-Faqir Ibnu Mas’ud mencoba menjelaskan dan memberi jawaban sbb:

Imam Ibnu Katsir salah satu ulama tafsir terkemuka dikalangan salafi wahabi menjelaskan maksud QS. Fathir: 22 diatas dalam tafsirnya juz 6 hal. 542

يقول تعالى كما لا تستوى هذه الأشياء المتباينة المختلفة كالأعمى والبصير لا يستويان بل بينهما فرق وبون كثير وكما لا تستوي الظلمات ولا النور ولا الظل ولا الحرور كذلك لا تستوي الأحياء ولا الأموات وهذا مثل ضربه الله تعالى للمؤمنين وهم الأحياء وللكافرين وهم الأموات

“Firman Allah sebagaimana ketidaksamaannya berbagai macam perkara yang sudah jelas seperti antara buta dan melihat, keduanya tidak ada kesamaan, tetapi keduanya berbeda sebagaimana perbedaan antara gelap dan terang, teduh dan panas. Demikian halnya ketidaksamaan antara orang-orang yg hidup dan yang mati, dan inilah perumpamaan yg dibuat oleh Allah Ta’ala bagi org2 MUKMIN adalah ORANG-ORANG YANG HIDUP, dan bagi org2 KAFIR adalah ORANG-ORANG YANG MATI.”

Jika QS. Fathir: 22 dipahami sebagai landasan bahwa org yg sudah meninggal tidak boleh untuk bertawasul kepadanya, sesuai dgn penjelasan Imam Ibnu Katsir diatas maka ayat tersebut SALAH unt dijadikan HUJJAH oleh salafi wahabi. Inilah akibat menafsirkan Al-Qur’an dgn logikanya sendiri tanpa mau mengambil penjelasan ulama tafsir yg diancam dgn API NERAKA. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sbb:

عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال اتقوا الحديث عني إلا ما علمتم فمن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار ومن قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار قال أبو عيسى هذا حديث حسن

Dari Ibnu Abbas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berhati-hatilah berbicara tentang aku kecuali apa yang kamu ketahui, barangsiapa berdusta tentang aku dgn sengaja, maka dia telah mengambil kursi dari api neraka, dan barangsiapa mengatakan tentang Al- Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka dia telah mengambil tempatnya di neraka.” (Abu Isa mengatakan ini adalah hadits hasan)

Selanjutnya Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang QS. An-Nisa: 64 sbb:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 64)

وقوله: { وَلَوْ أَنْهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } يرشد تعالى العصاة والمذنبين إذا وقع منهم الخطأ والعصيان أن يأتوا إلى الرسول صلى الله عليه وسلم فيستغفروا الله عنده، ويسألوه أن يستغفر لهم، فإنهم إذا فعلوا ذلك تاب الله عليهم ورحمهم وغفر لهم، ولهذا قال: { لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا }

وقد ذكر جماعة منهم: الشيخ أبو نصر بن الصباغ في كتابه “الشامل” الحكاية المشهورة عن العُتْبي، قال: كنت جالسا عند قبر النبي صلى الله عليه وسلم، فجاء أعرابي فقال: السلام عليك يا رسول الله، سمعت الله يقول: { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } وقد جئتك مستغفرا لذنبي مستشفعا بك إلى ربي ثم أنشأ يقول:

يا خيرَ من دُفنَت بالقاع (1) أعظُمُه … فطاب منْ طيبهنّ القاعُ والأكَمُ …
نَفْسي الفداءُ لقبرٍ أنت ساكنُه … فيه العفافُ وفيه الجودُ والكرمُ …
ثم انصرف الأعرابي فغلبتني عيني، فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقال: يا عُتْبى، الحقْ الأعرابيّ فبشره أن الله قد غفر له (2) .

(1) في أ: “في القاع”.
(2) ذكر هذه الحكاية النووي في المجموع (8/217) وفي الإيضاح (ص498)، وزاد البيتين التاليين: أنت الشفيع الذي ترجى شفاعته … على الصراط إذا ما زلت القدم
وصاحباك فلا أنساهما أبدا … مني السلام عليكم ما جرى القلم

Dan firman Alloh: {Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang..”} (QS. An-Nisa’: 64) Alloh mengajarkan kepada ahli maksiat dan pelaku dosa ketika sebagian diantara mereka melakukan kesalahan dan kemaksiatan agar mereka datang kepada Rosul Shollallohu ‘alaihi wa sallam dan memohon kpd Alloh disisinya, dan memohon kpd Rosul agar memohonkan ampun kpd Alloh atasnya. Maka apabila melakukan hal itu, niscaya Alloh menerima tobat mereka, merohmatinya dan mengampuninya, karena inilah Alloh berfirman, {tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”} (QS. An-Nisa’: 64)

Dan telah disebutkan oleh ijma’ ulama sebagian diantara mereka adalah Syeikh Abu Nashir bin Ash-Shobagh dlm kitabnya “Asy-Syamil” tentang cerita yg masyhur tentang Al-‘Utbi dia berkata, “Aku duduk di dekat kubur Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka datanglah seorang arab badui dan berkata, ‘Keselamatan bagimu wahai Rosululloh, aku telah mendengar bhw Alloh berfirman, {Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.} (QS. An-Nisa’: 64) Sungguh aku telah mendatangimu unt memohon ampunan atas dosa-dosaku dan memohon syafa’at darimu dari Tuhanku, kemudian dia bersyair: ‘Wahai org yg terbaik dan agung yg telah dikubur…, beruntunglah org yg membawa kebersihan di dlm kuburnya…, diriku sebagai tebusan (pengganti) untuk kubur yg engkau tempati…, di dalamnya terdapat kesucian, kedermawanan dan kemuliaan…..’ setelah itu org arab badui pergi. Maka tibalah rasa kantukku (Al-‘Utbi – pen) dan tertidur, di dlm mimpiku Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Utbi, arab badui benar, maka berilah kabar gembira kepadanya krn Alloh telah mengampuninya.”
(Hikayat ini disebutkan oleh Imam Nawawi dlm Al-Majmu’ juz 8 hal. 217 / Al-Idhoh hal. 498. Dan ada tambahan dua bait syair mengikutinya yaitu, “Engkaulah pemberi syafa’at yg diharapkan syafa’atnya…, diatas shiroth saat kaki melangkah…, dan unt kedua sahabatmu yg tdk aku lupakan selamanya…, salam dariku untukmu selama catatan masih berlaku.”)

DALAM KITAB “AD-DUROR AS-SANIYAH FI RODD AL-WAHABIYAH” HAL. 3 SAYID AHMAD BIN ZAINI DAHLAN MENJELASKAN

ألدٌّرَرُ السَّنِيَّةُ قِى رَدِّ عَلَى اْلوَهّابِيَّةِ
ألسيد أحمد ابن زيني دحلان

اعلم رحمك الله ان زيارة قبر نبينا صلى الله عليه وسلم مشروعة مطلوبة باالكتاب والسنة واجماء الامة أماالكتاب فقوله تعالى : { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } دلت الاية على حث الامة على المجئ صلى الله عليه وسلم والاستغفار عنده والاستغفارلهم وهذا لا ينقطع بموته ص 3

Ketahuilah, semoga Alloh merohmatimu, sesungguhnya berziarah ke kubur Nabi kita Shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah disyari’atkan dan diharapkan di dlm al-Kitab dan as-Sunnah serta ijma’ umat. Adapun kitab al-Qur’an sebagaimana firman Alloh Ta’ala: {Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang..”} (QS. An-Nisa’: 64) Ayat ini menunjukkan perintah buat umat agar mendatangi Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam dan memohon ampun disisinya serta memohon agar Rosul memohonkan ampun kepada mereka. Dan ini tdk terputus [keharusannya-pen] sebab telah wafatnya Rosululloh. Wallohu A’lam bish-Showab

SOBAT FILLAH, DARI REFERENSI YG TELAH SY SEBUTKAN DIATAS MENUNJUKKAN “KEBOLEHAN” BERTAWASUL KPD ROSULULLOH MESKIPUN TELAH WAFAT. JIKA TAWASUL HANYA BERLAKU TERHADAP ORG YG MASIH HIDUP SAJA, MAKA QS.AN-NISA’: 64 SDH TDK RELEVAN LAGI UNT MUSLIM SAAT INI.

PERTANYAANNYA, BUKANKAH AL-QUR’AN ITU BERLAKU DARI JAMAN ROSUL SAMPAI HARI KIAMAT ?

ADAKAH QS.AN-NISA’: 64 TSB HANYA DIPERUNTUKKAN UMAT ISLAM DIJAMAN NABI SAJA ? Wallahu a’lam bish-Shawab

SAUDARAKU SALAFI WAHABI, TOLONG KASIH JAWABAN JIKA KALIAN PUNYA HUJJAH YG LEBIH KUAT DARI PENJELASAN PARA ULAMA DIATAS

Hanya Allah tempat kami berlindung dan yg Maha Benar. Semoga bermanfa’at. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s