WAHABI MEMAHAMI ALLAH MEMILIKI DUA TANGAN SEPERTI MAKHLUK

Kaum Wahabiyah Al-Mujassimah Al-Mutasyabbihah berkeyakinan dalam akidahnya sbb:

Di dalam KitabAt-Tanbih ‘Ala Al-Mukhalafat Al-Aqdiyah Fi Fath Al-Bari’ karangan Ali bin Abdul Aziz bin Ali Asy-Syibli, sebagaimana scan kitab yg berwarna kuning bahwa “WAJIB MENETAPKAN DUA TANGAN ALLAH SECARA HAKIKAT,” tdk boleh ditakwil. Sementara Ibnu Hajar Al-Asqolani dan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat bahwa yang dimaksud dengan “TANGAN” (Alloh) bukanlah sebagaimana yang berlaku dalam sifat-sifat makhluk. Mereka juga berdalih dengan hadits Rasulullah berikut:

« إن الله يقبض يوم القيامة الأرض وتكون السماوات بيمينه ثم يقول : أنا الملك »

“Sesungguhnya Allah akan menggenggam bumi pada hari kiamat dan langit-langit berada di tangan kanan-Nya, lalu berfirman : ‘Aku adalah Raja”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy (13/404) no. 7411 dalam Kitaab At-Tauhiid, Bab : Firman Allah ta’ala : ‘Kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku’; dari hadits Naafi’, dari Ibnu ‘Umar secara marfu’.)

Dan juga hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, yang di dalamnya terdapat sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

« يد الله ملأى لا يغيضها نفقة سحَّاء الليل والنهار »

“Tangan Allah selalu penuh, tidak kurang karena memberi nafkah, dan selalu dermawan baik malam maupun siang”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy (13/404) no. 7412 dalam Kitaab At-Tauhiid, Bab : Firman Allah ta’ala : ‘Kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku’; dari hadits Al-A’raj, dari Abu Hurairah secara marfu’.)

Nash-nash yang telah disebutkan di atas merupakan dalil penetapan (sifat) dua tangan bagi Allah subhaanahu wa ta’ala, tidak boleh di-ta’wil sedikitpun. Tidak mungkin memahami dua tangan kecuali dengan (makna) hakekatnya. Barangsiapa yang tidak membawa makna sifat dua tangan sesuai hakekatnya, maka ia seorang mu’aththil (orang yang menafikkan sifat Allah) terhadap sifat tersebut. Al-Imam Abu Haniifah rahimahullah secara jelas mengatakan bahwa siapa saja yang tidak membawa nash-nash sesuai dengan (makna) hakekatnya, serta men-ta’wil-kan sifat dua tangan dengan kekuasaan (al-qudrah) atau nikmat (an-ni’mah), sungguh ia telah mengingkari sifat itu sendiri.

AKIDAH WAHABI MUJASSIMAH

========================================

AKIDAH ULAMA ASWAJA

Baiklah sekarang kita pahami bersama penjelasan tentang makna “Tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala” yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana firman Allah berikut:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

“Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan KEDUA TANGAN -KU. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. (QS. Shaad: 75)

Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki tangan? Jika benar berapa jumlahnya? Apakah jumlahnya dua? Untuk memahaminya melalui pembahasan sbb:

1) Perlu difahami ini merupakan ayat mutasyabihah. Ayat-ayat al-quran yang ada persamaan Allah dengan makhluk dikira sebagai ayat yang mutasyabihah.

2) Mengikut manhaj khalaf. ayat ini perlu ditakwil kepada makna yang sesuai pada bahasa arab supaya tidak terkeliru sehingga menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk.

3) Mengikut manhaj salaf sebenar menyerahkan makna “yadun” kepada Allah tanpa menterjemahkan kepada makna tangan atau menakwil kepada makna yang layak bagi Allah dan dalam masa yang sama halnya menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk.

4) Mengikut manhaj salafiyyah wahabiyyah, golongan mujassimah, hasyawiyyah dan kitabiyyah : “yadun” dengan makna tangan tetapi tangan Allah tidak sama dengan tangan makhluk. Ini pandangan yang sesat lagi menyesatkan kerana apabila dinisbatkan kepada Allah sifat tangan walaupun kita katakan ia tidak sama dengan makhluk sebenarnya kita telah menjisimkan Allah. Seumpama kita katakan “sampah berbau wangi”. Bila kita sebut sampah maka sudah jelas ia berbau busuk walaupun kita sifatkan ia berbau wangi. Bila kita kata tangan Allah sebenarnya kita telah menjisimkan Allah Ta’ala walaupun kita katakan tangan Allah tidak sama dengan tangan makhluk.

5) Mahasuci Allah daripada sama dengan makhluk samada bertangan, duduk, naik turun dan sebagainya daripada sifat makhluk. Firman Allah Ta’ala; ليس كمثله شيء “ Tidak ada yang seumpama denganNya (Allah) sesuatupun”

6) Kenapa Allah Ta’ala menyebut dengan dua tanganNya? Untuk memuliakan Adam. Kata ulama’: أضاف خلقه إلى نفسه تكريماً له; “Allah menyandarkan ciptaan-Nya kepada diri-Nya sebagai memuliakan baginya” Kerana ayat ini ditujukan kepada iblis yang enggan sujud kepada Adam dengan pertanyaan apa yang menegah kamu (iblis) untuk sujud kepada apa yang aku jadikan dengan zat aku bukan dengan perantaraan ayah dan ibu kerana Adam dijadikan tanpa ayah dan ibu seperti yang kita sudah maklum. Perumpamaan dengan menggunakan dua tangan lebih hebat daripada satu tangan kerana telah maklum kepada kita sesuatu kerja yang besar tidak dilakukan dengan sebelah tangan. Ini kefahaman yang disebut oleh Imam Zamakhsyari di dalam kitab Al-Kassyaf dalam menjelaskan maksud dua tangan. Berkata sebahagian ulama’; لما خلقت بيدي : لما خلقت بغير واسطة “Bagi apa yang Aku jadikan dengan dua tangan Aku bermaksud bagi apa yang aku jadikan tanpa perantaraan”

7) Mengikut tafsir jalalain oleh dua Imam besar Al-Imam Al-’Allamah Jalaluddin Al-Mahalli dan Al-Imam Al-‘Allamah Jalaluddin As-Suyuti menyebut dalam mentafsir ayat di atas; أي توليت خلقه أي من غير واسطة أبي وأمي وهذا تشريف لآدم فإن كل مخلوق تولى الله خلقه “Ialah Aku (Allah) meguasai kejadiannya (Adam) ialah tanpa perantaraan ayah dan ibu dan ini memuliakan bagi Adam. Sesungguhnya setiap makhluk Allah Ta’ala menguasai ciptaaNya”

8) Di dalam At-Tafsir Al-munir oleh Dr Wahbah Zuhaili : Aku menjadikannya (Adam) sendiri tanpa perantaraan Ayah dan Ibu dan Al-Yad bermaksud Al-Qudrah (kuasa Allah bukan tangan dengan maksud anggota) Juz :23-24 mukasurat : 229 Cetakan : Darul Fikr, Syiria.

Oleh sebab itu berkata Mujahid dalam mentafsirkan ayat ini;

قال مجاهد : اليد ها هنا بمعنى التأكد والصلة ، مجازه لما خلقت أنا كقوله : ” ويبقى وجه ربك ” [ الرحمن : 27 ] أي يبقى ربك

Tangan di sini dengan makna penguat dan kaitan. Majaznya (perkataan yang dipinjam bukan dengan makna asal atau hakiki) bagi apa yang aku (Allah) jadikan. Seperti Firman Allah Ta’ala : Kekal wajah Tuhan kamu [ ar-rahman : 27 ] bermaksud kekal Tuhan kamu.

Berkata As-Shahrastani di dalam kitab Milal Wa Nihal:

إن الأئمة مالكا والشافعي وأحمد قالوا : من حرك يده عند قراءة قوله تعالى ( لما خلقت بيدي ) وأشار بإصبعه عند رواية قلب المؤمن بين أصابع الرحن… الحديث وجب قطع يده وقطع أصبعه

Sesungguhnya imam-imam, Malik, Syafie dan Ahmad berkata : Barangsiapa yang menggerakkan tangannya ketika membaca firman Allah Ta’ala (ayat 75 surah Al-Mujadilah) dan mengisyaratkan jarinya ketika membaca riwayat “Hati manusia di antara jari-jari Allah”- (Al-Hadis), WAJIB DIPOTONG TANGAN DAN JARINYA. (Kitab Syarah Jauharatul Tauhid bagi Imam Al-Bajuri hal. 166). Wallahu a’lam bish-Shawab

2 responses to “WAHABI MEMAHAMI ALLAH MEMILIKI DUA TANGAN SEPERTI MAKHLUK

  1. terimakasih pembahasannya. saya ada pertanyaan. kalau menatapkan Allah melihat dan mendengar apakah termasuk musyabbihah? karena kita (makhluq) bisa melihat dan mendengar…

    • meyakini Alloh Maha Mendengar dan Maha Melihat adalah wajih. Adapun jika pendengaran dan penglihatan Alloh disamakan dgn manusia yg memiliki keterbatasan maka itulah yg dinamakan musyabbihah. Wallohu a’lam. syukron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s