MENURUT WAHABI : MERAPIKAN JENGGOT HARAM HUKUMNYA

 

Jika ada ulama yang menfatwakan haram hukumnya memotong habis/mencukur rambut jambang/jenggot, mungkin Anda tidak heran… tapi jika sekedar merapikan/tahdzîb saja sudah diharamkan maka ia adalah sangat menggelikan!

Tapi… itulah islam Wahhâbi-Salafi… mereka selalu menampilkan Islam jauh dari yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam … selalu membuat malu di hadapan umat lain…. Mereka hendak memperkenalkan Islam sebagai agama A’râab/ Arab baduwi yang sangat terbelakang yang asyaddu kufran wa nifâqan!

Perhatikan scan kitab yg berwarna kuning karya ulama kebanggaan Wahhabi Salafi; Syeikh at-Tuwaijiri, “mengutip ucapan IBNU TAIMIYAH bahwa MENCUKUR JENGGOT HUKUMNYA HARAM……………….!!!”

Jadi jangan heran jika Anda menyaksikan jenggot-jenggot para Wahhâbiyûn-Salafiyûn selalu kocar-kacir seperti rumput alang-alang yang tidak pernah terjamah tangan terampil pak tukan kebun!!

AR-RADD ‘ALA MAN AJAZA TAHDZIB AL-LIHYAH(Bantahan Atas Yang Mebolehkan Merapikan Jenggot) Karya: At-Tuwaijiri, Penerbit: Maktabah al-Ma’arif – Riyadh – Saudi Arabia

BANDINGKAN DENGAN PENDAPAT MAYORITAS ULAMA SBB:

Para ‘ulama berbeda pendapat mengenai hukum memotong sebagian jenggot. Sebagian besar ‘ulama memakruhkan, sebagian lagi membolehkannya (lihat: Ibn ‘Abd al-Barr, al-Tamhîd, juz 24, hal. 145). Salah seorang ‘ulama yang membolehkan memotong sebagian jenggot adalah Imam Malik, sedangkan yang memakruhkan adalah Qadliy ‘Iyadl.

Untuk menarik hukum mencukur jenggot dan memelihara jenggot harus diketengahkan terlebih dahulu hadits-hadits yang berbicara tentang pemeliharaan jenggot dan pemangkasan jenggot. Berikut ini adalah riwayat-riwayat yang berbicara tentang masalah pemeliharaan jenggot.

خالفوا المشركين وفروا اللحى وأحفوا الشوارب

Imam Bukhari mengetengahkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berbedalah kalian dengan orang-orang musyrik, panjangkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis. Adalah Ibnu ‘Umar, jika ia menunaikan haji atau umrah, maka ia menggenggam jenggotnya, dan memotong kelebihannya.”

جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس

Imam Muslim juga meriwayat hadits yang isinya senada dengan riwayat Imam Bukhari dari Ibnu ‘Umar, namun dengan menggunakan redaksi yang lain, “Pendekkanlah kumis, dan panjangkanlah jenggot, Berbedalah kalian dengan orang-orang majusi,.”

Riwayat-riwayat sama juga diketengahkan oleh Abu Dawud, dan lain sebagainya. Imam An-Nawawi, dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan, bahwadhahir hadits di atas adalah perintah untuk memanjangkan jenggot, atau membiarkan jenggot tumbuh panjang seperti apa adanya. Qadliy Iyadlmenyatakan, “Hukum mencukur, memotong, dan membakar jenggot adalah makruh. Sedangkan memangkas kelebihan, dan merapikannya adalah perbuatan yang baik. Dan membiarkannya panjang selama satu bulan adalah makruh, seperti makruhnya memotong dan mengguntingnya.” (Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz 3, hal. 151).

Menurut Imam An-Nawawi, para ‘ulama berbeda pendapat, apakah satu bulan itu merupakan batasan atau tidak untuk memangkas jenggot (lihat juga penuturan Imam Ath-Thabari dalam masalah ini; al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Bârî, juz 10, hal. 350-351).

Sebagian ‘ulama tidak memberikan batasan apapun. Namun mereka tidak membiarkannya terus memanjang selama satu bulan, dan segera memotongnya bila telah mencapai satu bulan.

Imam Malik memakruhkan jenggot yang dibiarkan panjang sekali. Sebagian ‘ulama yang lain berpendapat bahwa panjang jenggot yang boleh dipelihara adalah segenggaman tangan. Bila ada kelebihannya (lebih dari segenggaman tangan) mesti dipotong. Sebagian lagi memakruhkan memangkas jenggot, kecuali saat haji dan umrah saja (lihat Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, hadits no. 383; dan lihat juga Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Bârî, hadits. No. 5442).

Menurut Imam Ath-Thabari, para ‘ulama juga berbeda pendapat dalam menentukan panjang jenggot yang harus dipotong. Sebagian ‘ulama tidak menetapkan panjang tertentu, akan tetapi dipotong sepantasnya dan secukupnya. Imam Hasan Al-Bashri biasa memangkas dan mencukur jenggot, hingga panjangnya pantas dan tidak merendahkan dirinya.

Dari ‘Atha dan ‘ulama-‘ulama lain, dituturkan bahwasanya larangan mencukur dan menipiskan jenggot dikaitkan dengan tasyabbuh, atau menyerupai perbuatan orang-orang kafir yang saat itu biasa memangkas jenggot dan membiarkan kumis. Pendapat ini dipilih oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar. SedangkanImam An-Nawawi menyatakan, bahwa yang lebih tepat adalah membiarkan jenggot tersebut tumbuh apa adanya, tidak dipangkas maupun dikurangi (Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz 3, hal. 151).

Pendapat Imam An-Nawawi ini disanggah oleh Imam Al-Bajiy. Beliau menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan memanjangkan jenggot adalah bukan membiarkan jenggot panjang seluruhnya, akan tetapi sebagian jenggot saja. Sebab, jika jenggot telah tumbuh lebat lebih utama untuk dipangkas sebagiannya, dan disunnahkan panjangnya serasi. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Amru bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya, bahwasanya Rasulullah Saw memangkas sebagian dari jenggotnya, hingga panjangnya sama. Diriwayatkan juga, bahwa Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar memangkas jenggot jika panjangnya telah melebihi genggaman tangan. Ini menunjukkan, bahwasanya jenggot tidak dibiarkan memanjang begitu saja –sebagaimana pendapat Imam An-Nawawi–, akan tetapi boleh saja dipangkas, asalkan tidak sampai habis, atau dipangkas bertingkat-tingkat (Imam Zarqâniy, Syarah Zarqâniy, juz 4, hal. 426).

Al-Thaiyyibiy melarang mencukur jenggot seperti orang-orang A’jam (non muslim) dan menyambung jenggot seperti ekor keledai. Al-Hafidz Ibnu Hajarmelarang mencukur jenggot hingga habis (Ibid, juz 4, hal. 426).

Kesimpulannya, bahwa memangkas sebagian jenggot hukumnya adalah MUBAH. Sedangkan mencukurnya hingga habis hukumnya adalah MAKRUH tidak sampai ke derajat HARAM. Adapun hukum memeliharanya adalah SUNNAH (mandub). Wallahu a’lam bish-Shawab

 

5 responses to “MENURUT WAHABI : MERAPIKAN JENGGOT HARAM HUKUMNYA

  1. Assalaamu’alaikum wr wb… ya akhi… ya ukhti…

    Semoga kita selalu dibimbing ke dalam Islam yang kaffah tanpa terpengaruh oleh hawa nafsu kita dalam menerima dan mengikuti ajaran yang memang berasal dari Rosululloh SAW, kita dianjurkan mencontohnya seperti yang sudah dicontohkan oleh tiga generasi terbaik umat ini ( Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in ), karena hanya merekalah yang ke-Islamannya selalu terjaga dan umat yang mulia seperti sabda Rosululloh.

    Tanpa menjelekkan antar kelompok, namun mari kita mencari terus ilmu yang syar’i dan berdasar dari hadits yang shohih dan segera kita sami’na wa atho’na…

    Semoga kita selalu dibimbing untuk terus mendalami ilmu agama yang hanif ini dan tidak disesatkan oleh nafsu kita sendiri. Amien…

    Jazakallohu khoiron atas pemaparan hadits-nya. Pendapat boleh beda, namun kita bisa melihat mana yang lebih mendekati dengan pemahaman para sahabat terhadap ajaran Rosululloh tadi tanpa merendahkan saudara kita yang lain.

    Syukron…

    Mulyono Mudi Utomo

  2. Ya sabar aj para muslim yg semngat mencontoh Rasul,jgn tergerus semngat oleh orang2 yg hnya mngambil agama sebagian,yg di ambil adalah yg sesuai dgn kebiasaan nenek moyang mereka dan mengacuhkan sebagian lgi yg tdak sesuai dgn kebiasaan nenek moyang mereka…”Agama ini datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keterasingan”…jdi jgn heran kL qta di cemooh oleh para badui2 modern…yg mengatakan Cinta Rasul hny di aplikasikan dgn maulid nabi,nabi ketika nabi Mnyuruh Qt untuk memotong kumis dan memelihara jenggot,badui2 ini sibuk mencari celah agar bs menolak perintah Rasul yg tidak sesuai dgn para nenek moyang mereka…sudah Lah kL ente g bs mngamal kan sunnah minimal antum suka melihat orng mengamalKan sunnah.itu adalah jawaban bwt orang2 badui di zaman Rasul dan di Zaman skrng.krn Sdah spantas ny zaman lah yg mengikuti Agama,bkn agama yg mengikuti Zaman…semangat Lah wahai sang pencari iLmu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s