BENARKAH BELAJAR BAHASA SELAIN BAHASA ARAB DILARANG

 

Orang-orang yang secara ekstrim mengharamkan belajar bahasa Ajam (termasuk Inggris) secara mutlak mungkin berpedoman pada hadits Nabi yang dibawakan oleh Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah bersabda:

من يحسن أن يتكلم بالعربية فلا يتكلم بالعجمية فإنه يورث النفاق

“Barangsiapa yang mampu berbicara dalam bahasa Arab maka janganlah ia berbicara dengan bahasa Ajam karena dapat mewariskan kemunafikan.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 7001 (4/98). Di dalam sanadnya ada Amr bin Harun Al-Balkhi. Adz-Dzahabi berkata: “Amr bin Harun didustakan oleh Ibnu Ma’in dan ditinggalkan oleh jamaah ulama’.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

وأشار المصنف إلى ضعف ما ورد من الأحاديث الواردة في كراهة الكلام بالفارسية كحديث كلام أهل النار بالفارسية وكحديث من تكلم بالفارسية زادت في خبثه ونقصت من مروءته أخرجه الحاكم في مستدركه وسنده واه وأخرج فيه أيضا عن عمر رفعه من أحسن العربية فلا يتكلمن بالفارسية فإنه يورث النفاق الحديث وسنده واه أيضا

“Pengarang (Al-Imam Al-Bukhari) mengisyarahkan (dalam judul Bab tentang bolehnya berbicara dalam bahasa Persia, pen) tentang lemahnya hadits yang datang tentang dibencinya berbicara dalam bahasa Persia, seperti hadits: “Ucapan ahli neraka adalah bahasa Persia.” Dan juga hadits: “Barangsiapa yang berbicara dengan bahasa Persia maka bertambahlah keburukannya dan berkuranglah muru’ahnya.” Dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya dan sanadnya lemah. Dan Al-Hakim mengeluarkan pula hadits marfu’ dari Umar: “Barangsiapa yang mampu berbicara dalam bahasa Arab maka janganlah ia berbicara dengan bahasa Ajam karena dapat mewariskan kemunafikan.” Dan sanadnya juga lemah.” (Fathul Bari: 6/184).

Sekarang ini telah terjadi kesalahfahaman tentang hukum belajar bahasa Inggris di kalangan ikhwan salafiyyin. Sebagian mereka jatuh ke dalam ghuluw karena mengharamkan belajar bahasa Inggris secara mutlak dan mencela madrasah yang mengajarkan bahasa Inggris padahal madrasah tersebut juga bermanhaj salaf sebagaimana rekomendasi sebagian ulama’ dakwah salafiyah. Bahkan di antara mereka ada yang keterlaluan dalam bersikap dan meng-hizbi-kan saudara mereka yang sedang belajar bahasa Inggris padahal ia dalam posisi sangat membutuhkannya.

Larangan Membiasakan Bahasa Ajam

Telah datang larangan dari Salafush Shalih tentang larangan mempelajari bahasa Ajam (termasuk bahasa Inggris) dengan tujuan pemakaian sehari-hari atau sebagai kebiasaan.

Umar bin Al-Khaththab t berkata:

لاَ تَعَلَّمُوا رَطَانَةَ الأَعَاجِمِ وَلاَ تَدْخُلُوا عَلَى الْمُشْرِكِينَ فِى كَنَائِسِهِمْ يَوْمَ عِيدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَنْزِلُ عَلَيْهِمْ.

“Janganlah kalian mempelajari ‘rathanah’ (bercakap-bercakap) bahasa Ajam. Dan janganlah kalian memasuki gereja-gereja orang-orang musyrik ketika hari raya mereka karena murka (Allah) turun kepada mereka.” (HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 19333 (9/234), Abdur Razzaq dalam Mushannafnya: 1609 (1/411) dan isnadnya di-shahih-kan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidla’ Shirathil Mustaqim: 199).

Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar ra:
أنه كره رطانة الأعاجم

“Bahwa beliau (Ibnu Umar) membenci bercakap-cakap dengan bahasa Ajam.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul Adab: 53 (1/64) dari Ibnu Numair dari Al-Umari dari Nafi’)

Al-Imam Atha’ juga berkata:

لاَ تَعَلَّمُوا رَطَانَةَ الأَعَاجِمِ ، وَلاَ تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ كَنَائِسَهُمْ ، فَإِنَّ السَّخَطَة تَنْزِلُ عَلَيْهِمْ

“Janganlah kalian mempelajari ‘rathanah’ (bercakap-bercakap) bahasa Ajam. Dan janganlah kalian memasuki gereja-gereja mereka karena murka (Allah) turun kepada mereka.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 9/11).

Ibnu Taimiyah berkata:

وأما اعتياد الخطاب بغير العربية التي هي شعار الإسلام ولغة القرآن حتى يصير ذلك عادة للمصر وأهله ولأهل الدار وللرجل مع صاحبه ولأهل السوق أو للأمراء أو لأهل الديوان أو لأهل الفقه فلا ريب أن هذا مكروه فإنه من التشبه بالأعاجم وهو مكروه كما تقدم

“Dan adapun membiasakan berbicara dengan selain bahasa Arab yang merupakan syi’ar Al-Islam dan bahasa Al-Quran sampai bahasa tersebut menjadi adat (kebiasaan) bagi suatu negeri dan penduduknya, juga bagi penghuni rumah tangga, juga antara seseorang dengan temannya, bagi penduduk pasar, bagi pemerintahan atau dinas pemerintah atau menjadi kebiasaan bagi ahli fiqih, maka tidak diragukan lagi bahwa ini (membiasakan selain bahasa Arab) adalah dibenci karena termasuk tasyabbuh dengan orang-orang Ajam dan perkara tersebut adalah dibenci sebagaimana keterangan terdahulu.” (Iqtidla’ Shirathil Mustaqim: 206).

Mempelajari Bahasa Inggris atau Ajam sebagai Wasilah

Termasuk dalam Bab ‘mempelajari bahasa Ajam sebagai wasilah’ yaitu mempelajarinya untuk kepentingan dakwah, untuk mendekatkan pemahaman, saling berkomunikasi atau juga untuk memenuhi kebutuhan duniawi seperti belajar ilmu kedokteran atau teknologi yang lainnya.

Ini karena semua manusia di muka bumi ini memiliki bahasa yang berlainan sebagai tanda kekuasaan Allah. Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 22).

Al-Imam Al-Qurthubi berkata:

(وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوانِكُمْ) اللسان في الفم، وفية اختلاف اللغات: من العربية والعجمية والتركية والرومية. واختلاف الألوان في الصور: من البياض والسواد والحمرة، فلا تكاد ترى أحدا إلا وأنت تفرق بينه وبين الآخر

“Firman Allah: “berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu” maksudnya adalah lisan yang ada di dalam mulut. Dan di dalamnya ada perbedaan bahasa: bahasa Arab, bahasa Ajam, bahasa Turki dan bahasa Rum. Dan juga perbedaan warna dalam rupa: kulit putih, kulit hitam, kulit merah. Maka kamu tidaklah melihat seseorang kecuali kamu dapat membedakan antaranya dan orang lain.” (Tafsir Al-Qurthubi: 14/18).

Ketika seseorang berdakwah kepada suatu kaum yang belum mengerti bahasa Arab maka hendaknya ia berdakwah dengan bahasa mereka. Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ibrahim: 4).

Al-Imam Qatadah (seorang ulama tabiin) berkata:

قوله:(وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه) ، أي بلغة قومه ما كانت . قال الله عز وجلّ:(ليبين لهم) الذي أرسل إليهم ، ليتخذ بذلك الحجة

“Firman Allah: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya” maksudnya adalah dengan bahasa kaumnya apapun bahasanya. Dan firman Allah: “supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka” maksudnya adalah agar ia (penjelasan tersebut) dijadikan sebagai hujjah.” (HR. Ibnu Jarir: 16/517, dan isnadnya di-hasan-kan oleh DR. Hikmat Basyir Yasin dalam Ash-Shahihul Masbur fit Tafsiril Ma’tsur: 3/128).

Dari Ubay bin Ka’ab t, ia berkata:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتٍ مِنْ كِتَابِ يَهُودَ قَالَ إِنِّي وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابِي قَالَ فَمَا مَرَّ بِي نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ

“Rasulullah menyuruhku untuk mempelajari -untuk beliau- kalimat-kalimat (bahasa) dari buku (suratnya) orang Yahudi, beliau berkata: “Demi Allah, aku tidak merasa aman dari (pengkhianatan) yahudi atas suratku.” Maka tidak sampai setengah bulan aku sudah mampu menguasai bahasa mereka. Ketika aku sudah menguasainya maka jika beliau menulis surat untuk yahudi maka aku yang menuliskan untuk beliau. Dan ketika mereka menulis surat untuk beliau maka aku yang membacakannya kepada beliau.” (HR. At-Tirmidzi: 2639, ia berkata hadits hasan shahih, Ahmad: 20605, Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 7136 (16/84), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 12556 (6/211) dan ini adalah redaksi At-Tirmidzi. Isnadnya di-shahih-kan oleh Al-Arna’uth dalam Ta’liq Musnad Ahmad, dan di-shahih-kan pula oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah hadits: 187)

Dalam riwayat lain:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْيَانِيَّةَ

“Rasulullah memerintahkanku untuk mempelajari bahasa Suryani.” (HR. At-Tirmidzi: 2639).

Al-Allamah Al-Mubarakfuri berkata:

قال القارىء قيل فيه دليل على جواز تعلم ما هو حرام في شرعنا للتوقي والحذر عن الوقوع في الشر كذا ذكره الطيبي في ذيل كلام المظهر وهو غير ظاهر إذ لا يعرف في الشرع تحريم تعلم لغة من اللغات سريانية أو عبرانية أو هندية أو تركية أو فارسية وقد قال تعالى ومن آياته خلق السماوات والأرض واختلاف ألسنتكم أي لغاتكم بل هو من جملة المباحات نعم يعد من اللغو ومما لا يعني وهو مذموم عند أرباب الكمال إلا إذا ترتب عليه فائدة فحينئذ يستحب كما يستفاد من الحديث انتهى

“Al-Qari menyatakan bahwa di dalam hadits ini terdapat dalil atas bolehnya mempelajari sesuatu yang haram dalam syariat kita untuk berhati-hati dan berjaga-jaga dari terjatuh dalam keburukan. Demikianlah disebutkan oleh Ath-Thibi dalam dzail ucapan Al-Mudzhir. Ucapan beliau ini tidak jelas karena tidak diketahui dalam syara’ ini sebuah dalil yang yang mengharamkan mempelajari satu bahasa pun dari bahasa-bahasa Suryani, Ibrani, India, Turki ataupun Persia. Dan Allah U berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan lisanmu” maksudnya adalah bahasa-bahasa kamu. Bahkan itu (mempelajari bahasa-bahasa Ajam) termasuk dari perkara mubah. Benar, itu bisa dianggap sesuatu yang sia-sia sehingga mempelajarinya adalah tercela menurut orang-orang yang menginginkan kesempurnaan. Kecuali jika terdapat faidah yang berturut-turut dari mempelajarinya maka ketika itu dianjurkan (mempelajarinya) sebagaimana faidah yang dapat diambil dari hadits ini. Selesai.” (Tuhfatul Ahwadzi: 7/413).

Bahasa Arab Tetap Nomor Satu

Meskipun kita mendapatkan keringanan untuk mempelajari bahasa Inggris sesuai dengan kebutuhan masing-masing, kita hendaknya mengutamakan untuk mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa resmi Agama Islam. Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2).

Al-Imam Ibnu Katsir berkata:

وذلك لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس؛ فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه

“Yang demikian karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, yang paling jelas dan yang paling luas dan yang paling banyak membawa makna yang ditegakkan oleh jiwa-jiwa. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (Al-Quran) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia kepada rasul yang paling mulia melalui perantaraan malaikat yang paling mulia. Dan terjadinya pada tempat yang paling mulia di muka bumi. Dan dimulai turunnya pada bulan yang paling mulia dalam setahun yakni Ramadlan. Maka Al-Quran menjadi sempurna dari berbagai segi.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/366).

Dari Umar bin Zaid, ia berkata:

كَتَبَ عُمَرُ إِلَى أَبِي مُوسَى : أَمَّا بَعْدُ فَتَفَقَّهُوا فِي السُّنَّةِ , وَتَفَقَّهُوا فِي الْعَرَبِيَّةِ , وَأَعْرِبُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ عَرَبِيٌّ ..

“Umar t menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari t: “Amma ba’du, maka carilah pemahaman dalam As-Sunnah, carilah pemahaman dalam bahasa Arab, I’rabilah Al-Quran..” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 30534 (10/456) dari Isa bin Yunus dari Tsaur dari Umar bin Zaid).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ومعرفتها فرض واجب فإن فهم الكتاب والسنة فرض ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب ثم منها ما هو واجب على الأعيان ومنها ما هو واجب على الكفاية

“Dan lagi, bahwa bahasa Arab sendiri termasuk agama (Islam). Mengetahuinya adalah fardlu dan wajib. Karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah adalah fardlu. Dan tidak dapat difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Segala sesuatu yang mana perkara wajib tidak akan sempurna kecuali dengannya maka ia menjadi wajib. Kemudian di antara bahasa Arab ada yang fardlu ain dan ada yang fardlu kifayah.”(Iqtidla’ Shirathil Mustaqim: 207).

Kesimpulan

Mempelajari bahasa asing adalah dihukumi sebagai wasilah saja dan boleh dipelajari jika ada kebutuhan agama atau duniawi.

Untuk kepentingan pendidikan anak-anak, kita harus memprioritaskan bahasa Arab sebagai bagian dari pendidikan Al-Quran dan As-Sunnah. Porsi kedua adalah bahasa Indonesia sehingga mereka bisa berdakwah di lingkungan masyarakatnya. Porsi ketiga adalah bahasa asing seperti bahasa Inggris karena anak-anak kita juga memiliki hak untuk mengerti teknologi duniawi. Semoga tulisan ini bermanfaat. Amien. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s