ISTIGHOTSAH DIAKUI OLEH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

Salah satu kitab-kitab karangan ulama salafi wahabi yg sy suka salah satunya adalah Al-Ushul Ats-Tsalatsah karangan Muhammad bin Abdul Wahhab. Dimana amalan yg selama ini ditolak sebagai amalan ibadah oleh kebanyakan wahabiyun, eh ternyata ISTIGHOTSAH diakui oleh dedengkotnya sendiri bahwa istighotsah adalah termasuk amalan IBADAH.

Pada halaman 3

 kitab ini disebutkan sebagaimana scan kitab yg berwarna kuning sbb:

وانواع العبادة التي أمر الله بها مثل الاسلام, والأيمان, والأحسان, ومنه: ألدعاء, والخوف, والرجاء, والتوكل, والرغبة, والرهبة, والخشوع, والخشية, والأنابة, والأستعانة, والأستعاذة, والأستغاثة, والذبح, والنذر, وغير ذالك من أنواع العبادة التي أمر الله بها كلها.

“Dan jenis ibadah yang diperintahkan Allah seperti Islam, iman, amal, dan termasuk dari padanya: berdoa, khauf (rasa takut akan siksa Allah), raja’ (berharap keridhoan Allah), tawakal (pasrah dgn penuh kepercayaan kpd Allah), raghbah (keinginan baik), rahbah (kekaguman keagungan Allah), khusyu’ (hormat kepada Allah), khasyyah (rasa takut dimurkahi Allah), inabah (kembali kepada Allah dgn bertaubat), isti’anah (meminta pertolongan), isti’adzah (meminta perlindungan), ISTIGHOTSAH (memohon pertolongan dgn sungguh-sungguh kepada Allah), dzabh (berkurban karena Allah), dan nadzar (sumpah), dan lain sebagainya dari bagian ibadah yang Allah perintahkan semuanya.” (Al-Ushul Ats-Tsalatsah Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 3)

Kata “istighotsah” استغاثة berasal dari “al-ghouts”الغوث yang berarti pertolongan. Dalam tata bahasa Arab kalimat yang mengikuti pola (wazan) “istaf’ala” استفعلatau “istif’al” menunjukkan arti pemintaan atau pemohonan. Maka istighotsah berarti meminta pertolongan. Seperti kata ghufron غفران yang berarti ampunan ketika diikutkan pola istif’al menjadi istighfar استغفار yang berarti memohon ampunan. Jadi istighotsah berarti “thalabul ghouts” طلب الغوث atau meminta pertolongan. Para ulama membedakan antara istghotsah dengan “istianah”استعانة, meskipun secara kebahasaan makna keduanya kurang lebih sama. Karena isti’anah juga pola istif’al dari kata “al-aun” العون yang berarti “thalabul aun” طلب العون yang juga berarti meminta pertolongan. Istighotsah adalah meminta pertolongan ketika keadaan sukar dan sulit. Sedangkan Isti’anah maknanya meminta pertolongan dengan arti yang lebih luas dan umum. Baik Istighotsah maupun Isti’anah terdapat di dalam nushushusy syari’ah atau teks-teks Al-Qur’an atau hadits Nabi Muhammad SAW. Dalam surat Al-Anfal ayat 9 disebutkan:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. (QS-Al-Anfal: 9)
Ayat ini menjelaskan peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW memohon bantuan dari Allah SWT, saat itu beliau berada di tengah berkecamuknya perang badar dimana kekuatan musuh tiga kali lipat lebih besar dari pasukan Islam. Kemudian Allah mengabulkan permohonan Nabi dengan memberi bantuan pasukan tambahan berupa seribu pasukan malaikat.

Namun entah kenapa salah satu pemuja paham salafi wahabi Indonesia H. Mahrus Ali dalam bukunya yang berjudul, ”Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik”. Tulisan Mahrus, ternyata mempunyai banyak kejanggalan dan kebohongan, bahkan meresahkan kaum muslimin, khususnya bagi warga Nahdliyyin (sebutan untuk warga NU). Tim Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Cabang NU Jember merasa bertanggung jawab untuk meluruskan adanya kejanggalan dan kebohongan buku tersebut.

Dalam bukunya, Mahrus mengatakan bahwa tawassul dan istighosah termasuk perbuatan bid’ah (mengada-ada dalam beribadah), syirik (menyekutukan Tuhan). Bahkan, ia mengkafirkan. Dan, ibadah-ibadah lainnya, seperti, membaca sholawat pada Nabi dan membaca zikir setelah salat lima waktu termasuk perbuatan bid’ah. Padahal, bacaan-bacaan itu telah menjadi tradisi khususnya di kalangan Nahdliyyin.

Pertanyaannya, apakah Mahrus sudah menemukan dalil yang kuat dalam Al-Quran dan Al-Hadist, bahwa ber-tawassul, istighosah, membaca sholawat pada Nabi, dan membaca zikir termasuk perbuatan bid’ah, kufur, syirik, dan menyesatkan?

Wallahul musta’an bish-Shawab. Semoga bermanfa’at. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s