KEUTAMAAN MENCINTAI AHLUL BAIT RASULULLAH

 

SIAPAKAH AHLUL BAIT ITU ?

 

Sebelum kita membahas tentang Ahlul bait secara detail dan yang memusuhi meraka, sepantasnyalah kita mengenal terlebih dahulu siapakah sebenarnya Ahlul bait itu ?

Secara bahasa, kata الأَهْل berasal dari أَهْلاً وَ أُهُوْلاً أَهِلَ – يَأهَلُ = seperti أَهْلُ المْكَاَن berarti menghuni di suatu tempat. أَهْلُ jamaknya adalah أَهْلُوْنَ وَ أَهْلاَتُ وَ أَهَاِلي misal أَهْلُ الإِسْلاَم artinya pemeluk islam, أَهْلُ مَكَّة artinya penduduk Mekah. أَهْلُ الْبَيْت berarti penghuni rumah. Dan أَهْلُ بَيْتِ النَّبي artinya keluarga Nabi yaitu para isrti, anak perempuan Nabi serta kerabatnya yaitu Ali dan istrinya.

Sedangkan menurut istilah, para ulama Ahlus Sunnah telah sepakat tentang Ahlul Bait bahwa mereka adalah keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diharamkan memakan shadaqah. Mereka terdiri dari : keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga Aqil, keluarga Abbas, keluarga bani Harist bin Abdul Muthalib, serta para istri beliau dan anak anak mereka.

Memang ada perselisihan, apakah para istri Nabi termasuk Ahlul Bait atau bukan ? Dan yang jelas bahwa arti Ahlu menurut bahasa (etimologi) tidak mengeluarkan para istri nabi untuk masuk ke Ahlul Bait, demikian juga penggunaan kata Ahlu di dalam Al-Qur’an dan hadits tidak mengeluarkan mereka dari lingkup istilah tersebut, yaitu Ahlul Bait.

Allah berfirman :

وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Dan taatlah kalian kepada Allah dan rasulNya,sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan rijs dari kalian wahai ahlul bait dan memberbersihkan kalian sebersih-bersihnya. [QS. Al-ahzab : 33]

Ayat ini menunjukan para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk Ahlul Bait. Jika tidak, maka tak ada faidahnya mereka disebutkan dalam ucapan itu (ayat ini) dan karena semua istri Nabi adalah termasuk Ahlul Bait sesuai dengan nash Al Quran maka mereka mempunyai hak yang sama dengan hak-hak Ahlul Bait yang lain.

Berkata Ibnu Katsir: “Orang yang memahami Al Quran tidak ragu lagi bahwa para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam Ahlul Bait” dan ini merupakan pendapat Imam Al-Qurtuby, Ibnu Hajar, Ibnu Qayim dan yang lainnya.

Ibnu Taimiyah berkata: “Yang benar (dalam masalah ini) bahwa para istri Nabi adalah termasuk Alul Bait. Karena telah ada dalam hadits yang diriwayatkan di shahihaini yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari lafadz bershalawat kepadanya dengan:

الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَتِهِ (صحيح البخارى)

Ya Allah berilah keselamatan atas muhammad dan istri-istrinya serta anak keturunannya. [Diriwayatkan Imam Bukhari]

Demikian juga istri Nabi Ibrahim adalah termasuk keluarganya (Ahlu Baitnya) dan istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Luth juga termasuk keluarganya sebagaimana yang telah di tunjukkan oleh Al Quran. Maka bagaimana istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan termasuk keluarga beliau ? !

Ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa keluarga Nabi adalah para pengikutnya dan orang-orang yang bertaqwa dari umatnya, akan tetapi pendapat ini adalah pendapat yang lemah dan telah di bantah oleh Imam Ibnu Qoyyim dengan pernyataan beliau bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah mereka yang di haramkan shadaqah.

 

HADITS-HADITS TENTANG AHLUL BAIT

 

وعن على رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (مثل اهل بيتى كمثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تعلق بها فاز ومن تخلف عنها زج في النار) [ذخائر العقبى – 20

Dari Ali ra. berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan ahli baitku adalah seperti kapal Nuh as, barangsiapa menaikinya akan selamat, siapa yang berpegangan dengannya beruntung dan barangsiapa yang bertetentangan darinya [tidak menaikinya] akan tercebur di dalam neraka.” [Dakhair al-‘Uqba: 20]

عن ابن عباس رضى الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (مثل اهل بيتى كمثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تعلق بها فاز ومن تخلف عنها غرق) [ذخائر العقبى – 20

Dari Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan ahli baitku adalah seperti kapal Nuh as, barangsiapa menaikinya akan selamat, siapa yang berpegangan dengannya beruntung dan barangsiapa yang bertetentangan darinya [tidak menaikinya] akan tenggelam.” [Dakhair al-‘Uqba: 20]

عن أبو ذر سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من ركبها نجا و من تخلف عنها غرق [المستدرك الجزء 2 صفحة 373

Dari Abu Dzar ra. berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan ahli baitku adalah seperti kapal Nuh as, barangsiapa menaikinya akan selamat dan barangsiapa yang bertetentangan darinya [tidak menaikinya] akan tenggelam.” [Al-Mustadrak juz 2: 373]

عن أبي سعيد الخدري سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يقول إنما مثل أهل بيتي فيكم كمثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق وإنما مثل أهل بيتي فيكم مثل باب حطة في بني إسرائيل من دخله غفر له [المعجم الصغير الجزء 2 صفحة 844]

Dari Abu Said Al-Khudzri ra. berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan ahli baitku diantara kalian adalah seperti kapal Nuh as, barangsiapa menaikinya akan selamat dan barangsiapa yang bertetentangan darinya [tidak menaikinya] akan tenggelam. Dan sesungguhnya perumpamaan ahli baitku diantara kalian adalah seperti pintu Khithoh dalam masa Bani Israil, barangsiapa memasukunya maka diampuni dosa-dosanya.” [Al-Mu’jam Ash-Shaghir juz 2: 844]

عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنما مثلي ومثل أهل بيتي كسفينه نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق[ تاريخ بغداد الجزء 12 صفحة 915

Dari Anas bin Malik ra. berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan aku dan perumpamaan ahli baitku adalah seperti kapal Nuh as, barangsiapa menaikinya akan selamat dan barangsiapa yang bertetentangan darinya [tidak menaikinya] akan tenggelam.” [Tarikh Baghdad juz 12: 015]

عن إياس بن سلمة بن الأكوع عن أبيه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من ركبها نجا [مناقب أمير المؤمنين لابن المغازلي برقم 174

Dari Iyas bin Salamah bin Al-Akwa’ ra. dari bapaknya berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan ahli baitku adalah seperti kapal Nuh as, barangsiapa menaikinya akan selamat.” [Manaqib Amir Al-Mukminin li Ibni Al-Maghazali hal: 174]

عن عبدالله بن الزبير أن النبي (ص) قال : مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من ركبها سلم ومن تركها غرق [مجمع الزوائد الجزء 9 صفحة 265

Dari Abdullah bin Zubair ra. berkata, Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan ahli baitku adalah seperti kapal Nuh as, barangsiapa menaikinya akan selamat dan barangsiapa yang bertetentangan darinya [tidak menaikinya] akan tenggelam.” [Majma’ Az-Zawaid juz 9: 265]

عن أبو الطفيل عامر بن واثلة ، قال سمعت رسول الله (ص): يقول : مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تركها غرق [الكنى والالقاب لالدولابي – من إبتداء كنيته ( ط

Dari Abu Thufail ‘Amir bin Wailah ra. berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan ahli baitku adalah seperti kapal Nuh as, barangsiapa menaikinya akan selamat dan barangsiapa yang bertetentangan darinya [tidak menaikinya] akan tenggelam.”

أما عدد الحديث المتواتر فيقول علماء أهل السنة

1) قال ابن حزم المحلى بالآثار – الجزء السابع – ص 489: فهؤلاء أربعة من الصحابة رضي الله عنهم ، فهونقل تواتر ، ولا تحل مخالفته

2) الطحاوي قال في شرح معاني الآثار الجزء 1 صفحة 474 : وقد جاءت عن رسول الله صلى الله عليه وسلمآثار متواترة صحاح فيها أن الفخذ من العورة فمما روى عنه في ذلك ما

ثم نقل الحديث عن 4 او 5 من الصحابة

3) ويقول ابو حعفر في شرح معاني الآثار بتواتر بعض الاحاديث التي اتت عن 6 او 7 من الصحابة

4) الشيخ عبد الرءوف المناوي: قال محمد بن جعفر الكتاني بعدما نقل حديث عن 7 من الصحابة: (‏قلت‏)‏ نص على تواتره أيضاً الشيخ عبد الرءوف المناوي في التيسير نقلاً عن السيوطي

Hadits-hadits diatas tentang ahlul bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadits mutawatir. Adapun yg menguatkan keberadaannya adalah:

1.         Imam Ubnu Hazem Al-Mahalli dalam kitab Al-Atsar juz 7 hal. 489

2.         Imam Ath-Thahawi dalam kitab Syarh Al-Ma’ani Al-Atsar juz 1 hal. 474

3.         Abu Ja’far dan Syaikh Abdur Ra’uf Al-Manawi. Wallahu a’lam bish-Shawab

 

 

 

 

4 responses to “KEUTAMAAN MENCINTAI AHLUL BAIT RASULULLAH

  1. allahuma sholi ala muhammadin wa ala alihi, wa ashabihi, wa azwajihi, wa dzuriyatihi, wa ahlal baytihi : mohon maaf atas ketidak pahaman sy, sy sering mendengar sholawat di atas, kenapa antara zawjatihi, duriatihi dan ahlul bayt di pisah dengan huruf waw ? bukankah itu menunujukan bahwa ahlul bayt itu bisa juga dari yang bukan keluargaNYA, contoh seperti para ulama ulama, sesuai dengan nashnya, ulama sebagai pewaris para nabi atau orang orang sholeh, afwan ya akhi atas kebodohan ana, ana minta penjelasannya, syukron….

  2. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

  3. firman Allah SWT ”Katakanlah (Hai Muhammad), aku tidak meminta dari kalian sesuatu upahpun (atas seruanku) kecuali kasih sayang terhadap keluarga” QS.42:23.
    Ia berkata, yang dimaksud keluarga dalam ayat itu adalah keluarga Rasulullah SAW. SEBAGAIMANA KITA KETAHUI AL-QUR’AN BERLAKU SEPANJANG MASA, OLEH KARENA ITU MENGAPA ALLAH MEMERINTAHKAN RASULULLAH BERKATA UNTUK MENYERU UMAT MENCINTAI KELUARGA NYA KALAU KELUARGA NYA TIDAK ADA LAGI, JADI KETURUNAN RASULULLAH TIDAK AKAN PUTUS SAMPAI HARI KIAMAT. DAN INI HADIS2 NYA :

    HADITS
    Ibnu ‘Asakir dalam Tarikhnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Semua hubungan nasab dan shihr (kerabat sebab hubungan perkawinan) akan terputus pada hari kiamat kecuali nasab dan shihrku”.

    HADITS
    At Thabrani meriwayatkan dalam Al Awsath dari Jabir ra bahwa ia mendengar ‘Umar bin Al Khaththab ra mengatakan kepada orang-orang ketika ia menikah dengan salah seorang putri ‘Ali ra. Tidaklah kalian mengucapkan selamat atasku ? aku mendengar Rasulallah saw bersabda : “Akan terputus pada hari kiamat semua sebab dan nasab (keturunan) kecuali sebabku dan nasab yang bersambung denganku”.

    HADITS
    At Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari kiamat kecuali sebab dan nasab yang bersambung denganku”.

    HADITS
    Ibnu ‘Asakir dalam Tarikhnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Semua hubungan nasab dan shihr (kerabat sebab hubungan perkawinan) akan terputus pada hari kiamat kecuali nasab dan shihrku”.

    DAN INI HADITS2 TENTANG KETURUNAN RASULULLAH YANG BERASAL DARI ANAK CUCU SAYYIDATUNA FATIMAH RA DAN SAYYIDINA ALI BIN ABU THALIB :
    HADITS
    At Thabrani meriwayatkan dari ‘Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda : “Setiap putra seorang perempuan bergabung nasabnya kepada ashabahnya (keluarganya dari pihak ayah) kecuali keturunan Fatimah ra, akulah ashabah mereka dan Akulah ayah mereka”.

    HADITS
    At Thabrani meriwayatkan dari Fatimah Az Zahra ra, beliau berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Setiap putra ibu akan bergabung dalam nasabnya kepada ashabahnya kecuali anak-anak Fatimah, Akulah wali mereka dan Akulah ashabah mereka”.

    HADITS
    Al Hakim meriwayatkan dari Jabir ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Setiap putra ibu memiliki ashabah yang mereka dinisbatkan kepadanya kecuali kedua putra Fatimah, Akulah wali mereka dan Aku adalah ashabah mereka”.

  4. bagaimana hadits bisa bertentangan dengan Al-Quran? kalau ada hadits yang bertolak belakang dengan Al-Quran pemahamannya maka harus dipertanyakan keshohihannya, sedangkan Al-Quran tidak terbantahkan kebenarannya ” Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (Qs. Annisa’ : 87&122) lalu bagaimana pemahaman ahlulbait versi hadits bisa dibenarkan kalau menyilisihi Al-Quran?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s