KESALAHAN WAHABI DALAM “MENGHUKUMI AHLUL BID’AH”

KITAB USHUL AL-IMAN SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB JUZ : I

أصول الإيمان الشيخ محمد بن عبد الوهاب، الجزء الأول

وعن أبي الدرداء مرفوعا قال: “ما أحل الله في كتابه فهو حلال، وما حرم فهو حرام، وما سكت عنه فهو عافية، فاقبلوا من الله عافيته، فإن الله لم يكن لينسى شيئا {وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيّاً} سورة مريم آية: 64. رواه اليزار وابن أبي حاتم والطبراني. ص -257

Dari Abu Darda ( marfu’) berkata, “Apa saja yg dihalalkan Alloh di dalam kitab-Nya maka halal, dan apa saja yg diharamkan, maka haram. Dan apa saja yg didiamkan darinya, maka itu DIMA’AFKAN. Maka terimalah kema’afan dari Alloh. Maka sesungguhnya Alloh tdk mungkin melupakan sesuatu {Dan tidaklah Tuhanmu itu lupa} QS. Maryam: 64 (HR. Al-Bazzar, Ibnu Hatim dan Ath-Thabrani) [Ushul Al-Iman juz I hal. 257].

APA YG DIKATAKAN ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA DALAM FIRMAN-NYA?

وقوله: { وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا } أي: مهما أمركم به فافعلوه، ومهما نهاكم عنه فاجتنبوه، فإنه إنما يأمر بخير وإنما ينهى عن شر.

قال ابن أبي حاتم: حدثنا يحيى بن أبي طالب، حدثنا عبد الوهاب، حدثنا سعيد، عن قتادة، عن الحسن العوفي، عن يحيى بن الجزار، عن مسروق قال: جاءت امرأة إلى ابن مسعود فقالت: بلغني أنك تنهى عن الواشمة والواصلة، أشيء وجدته في كتاب الله أو عن رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: بلى، شيء وجدته في كتاب الله وعن رسول الله صلى الله عليه وسلم. قالت: والله لقد تصفحت ما بين دفتي المصحف فما وجدت فيه الذي تقول!. قال: فما وجدت فيه: { وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا } ؟ قالت: بلى. قال: فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهى عن الواصلة والواشمة. قالت: فلعله في بعض أهلك. قال: فادخلي فانظري. فدخلت فَنَظرت ثم خرجَت، قالت: ما رأيتُ بأسا. فقال لها: أما حفظت وصية العبد الصالح: { وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ }

Firman Alloh:{“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” }yaitu selagi diperintahkan, maka kerjakanlah dan selagi dilarang, maka tinggalkanlah. Maka sesungguhnya apa yg diperintahkan itu baik dan apa yg dilarang itu buruk. QS. Al-Hasyr: 7

Ibnu Hatim berkata, mengatakan kepadaku Yahya bin Abi Tholib, mengatakan kepadaku Abdul Wahhab, mengatakan kepadaku Sa’id, dari Qotadah, dari Hasan Al-‘Aufi, dari Yahya bin Jazar, dari Masyruq ia berkata, “Datang seorang wanita kpd (Abdulloh) Ibnu Mas’ud dan berkata, ‘Sampaikan kpd ku bhw sesungguhnya engkau melarang bertato dan menyambung rambut, adakah sesuatu (larangan) engkau dapatkan di dlm kitab Alloh atau dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam?’ Ibnu Mas’ud menjawab, “Ya, itu sesuatu (yg dilarang) di dlm kitab Alloh dan dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam.” Wanitu itu berkata, ‘Demi Alloh, sungguh aku telah membaca mushaf dan tdk aku temukan seperti apa yg engkau katakan!’ Ibnu Mas’ud berkata, “Bukankah kamu menemukan di dalamnya (Al-Qur’an) {“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah?” }Wanita itu menjawab, ‘Ya’, Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya akau mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang wanita yg menyambung rambut, bertato.” Wanita itu berkata, ‘Itu semua dilakukan oleh sebagian keluargaku.’ Maka Ibnu Mas’ud berkata kepadanya, “Masuklah dan perlihatkan kepadaku,” maka wanita itu masuk dan mengeluarkan dan memperlihatkan (keluarganya) dan berkata, ‘Aku tidak melihat ini buruk.’ Maka Ibnu Mas’ud berkata kepadanya, “Tidakkah kamu mengingat wasiat unt org2 yg sholih {Tidaklah aku bermaksud unt dipertentangkan pada apa yg aku larang darinya} (Tafsir Ibnu Katsir juz VIII hal 66)

Abu Tsa’labah Al-khusyani Jurtsum bin Nasyir ra. meriwayatkan dari Rosulullah saw, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah swt telah menetapkan beberapa kewajiban, janganlah engkau menyepelekannya (meremehkannya), telah menentukan sanksi-sanksi hukum, janganlah engkau melanggar, telah pula mengharamkan beberapa hal, maka janganlah engkau jatuh kedalamnya. Dia juga mendiamkan beberapa hal –karena kasih sayangnya kepada kalian bukannya lupa– maka janganlah engkau mencari-carinya.” (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ad-daruquthni, dll) (Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi hadits ke-30)

SOBAT FILLAH, DARI KETERANGAN DIATAS DAPAT DISIMPULKAN BAHWA WAHABI DALAM MENGHUKUMI BID’AH SECARA UMUM, SERAMPANGAN DAN MENYALAHI HUKUM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH, HAL ITU DISEBABKAN SBB:

1. SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB SENDIRI MENJELASKAN SEBUAH HADITS TENTANG APA YG TDK ADA PERINTAH DAN LARANGAN ITU MERUPAKAN “HAL YG DIBOLEHKAN.”

2. IBNU KATSIR DALAM TAFSIRNYA MENJELASKAN QS. AL-HASYR: 7 DIKUATKAN DGN ATSAR HADITS IBNU MA’UD TENTANG SEORANG WANITA YG MENYAMBUNG RAMBUT DAN BERTATO. LARANGAN ITU BERLAKU JIKA SDH JELAS LARANGANNYA

3. HADITS RIWAYAT DARUQUTHNI TENTANG APA YG “DIDIAMKAN ALLOH (TDK ADA PERINTAH DAN LARANGAN) ITU ADALAH ROHMAT” DAN TDK BOLEH MENCARI ALASAN UNT MEMPERMASALAHKANNYA.

JADI DAPAT DIPAHAMI SESUATU YG BARU (BID’AH) YG JELAS-JELAS TDK BERTENTANGAN DGN AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH ITU ADALAH HAL YG JAWAZ (BOLEH DILAKUKAN BOLEH TIDAK) Wallohu A’lam bish-Showab

2 responses to “KESALAHAN WAHABI DALAM “MENGHUKUMI AHLUL BID’AH”

  1. Golongan Wahabi umumnya lebih mendahulukan hadits dibandingkan dengan Qur’an. Lebih memprioritaskan mentafkirkan sesama muslim, daripada mentauhidkan orang kafir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s